Menulusuri
7 Unsur Kebudayaan yang Universal dalam Kebudayaan Jawa
Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari
banyak pulau dan memiliki berbagai macam suku bangsa, bahasa, adat istiadat
atau yang sering kita sebut kebudayaan. Keanekaragaman budaya yang terdapat di
Indonesia merupakan suatu bukti bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan
budaya.
Tidak bisa kita pungkiri, bahwa kebudayaan daerah merupakan
faktor utama berdirinya kebudayaan yang lebih global, yang biasa kita sebut
dengan kebudayaan nasional. Maka atas dasar itulah segala bentuk kebudayaan
daerah akan sangat berpengaruh terhadap budaya nasional, begitu pula sebaliknya
kebudayaan nasional yang bersumber dari kebudayaan daerah, akan sangat
berpengaruh pula terhadap kebudayaan daerah / kebudayaan lokal.
Kebudayaan merupakan suatu kekayaan yang sangat benilai
karena selain merupakan ciri khas dari suatu daerah juga mejadi lambang dari
kepribadian suatu bangsa atau daerah.
Karena
kebudayaan merupakan kekayaan serta ciri khas suatu daerah, maka menjaga,
memelihara dan melestarikan budaya merupakan kewajiban dari setiap individu,
dengan kata lain kebudayaan merupakan kekayaan yang harus dijaga dan
dilestarikan oleh setiap suku bangsa.
Disini, saya mencoba
untuk peduli dengan budaya dari mana kami berasal yaitu jawa. Dengan keterbatasan
ilmu dan pengetahuan, kami mencoba merangkum berbagai tulisan yang berkaitan
dengan budaya Jawa dari berbagai sumber
A.
Sistem
religi
Kepercayaan manusia terhadap adanya Sang Maha Pencipta yang
muncul karena kesadaran bahwa ada makluk yang lebih dan Maha Kuasa. Sehubungan dengan
agama yang dianut, entah agama Islam, Kristen, Protestan, Hindu, dan Budha
sikap keagamaan rata-rata manusia Jawa boleh dikata nominal dalam arti, bahwa manusia
Jawa tidak saleh sepenuhnya dengan mengecualikan sudah tentu orang-orang yang
memang benar-benar beriman.
Bila para Muslim dan
muslimat di jawa Tengah dan jawa Timur biasanya berkelompok di sebuah kampung
bernama Kauman yang berada di sekitar masjid. Maka orang-orang yang beragama
Protestan dan Katolik berkelompok sebagai jemaah dalam suatu organisasi yang
berhubungan dengan gereja mereka masing-masing.
Kenyataan bahwa sebelum agama Islam dan agama Kristen masuk
di Indonesia telah sampai lebih dahulu di negri ini yaitu agama Hindu dan agama
Budha, maka bisa dimengerti kalau penduduk pulau jawa telah terpengaruhi oleh
agama Hindu dan agama Budha sebelum belajar agama Islam, Protestan, dan
Katolik. Agama Hindu dan agama Budha yang berasal dari India itu berada di
dalam tingkat terbawah dan tertua di dalam tumpukan lapisan agama yang terdapat
di jawa Tengah dan Jawa Timur.
Setalah itu ditingkat
di atasnya agama-agama Islam, Katolik, Protestan. Karena datangnya lebih dulu,
maka agama Budha dan agama Hndu setidak-tidaknya berkesempatan lebih lama untuk
memberi pengaruh alam pikiran dan perasaan orang-orang jawa sehingga sesudah penduduk
jawa memeluk ke agama Islam, Katolik, dan Prostestan pada dasarnya masih
berpikir sebagai orang Budha dan orang Hindu dengan berbagai upacara yang hingga
kini pun masih jelas kelihatanya pada manusia jawa yang menghayati kepercayaan
pada Tuhan Yang Maha Esa, penghayataan mereka sedikit bercampur dengan sejumlah
upacara keagamaan yang lebih banyak berbau takhayul daripada tata-cara yang
bisa didekati secara rasional. Ini bisa dijumpai pada upacara-upacara
perkawinan, kelahiran, khitanan dan kematian yang sebagian besar tidak sejalan
dan sukar bisa diterima oleh agama-agama yang percaya pada Tuhan Yang Mahaesa.
Itulah kenyataannya yang ada hingga saat ini. Sisa-sisa pengaruh agama-agama
yang datang dan dihayati lebih dahulu masih banyak berbicara di dalam
penghayatan agama di Jawa Tengah dan dan Jawa Timur.
B.
Sistem
Kemasyarakatan
Dalam sistem kemasyarakatan, akan dibahas mengenai pelapisan
sosial. Dalam sistem kemasyarakatan Jawa, dikenal 4 tingkatan yaitu Priyayi,
Ningrat atau Bendara, Santri dan Wong Cilik.
1.
Ningrat
Ningrat atau Bendara adalah kelas
tertinggi dalam masyarakat Jawa. Pada tingkatan ini biasanya diisi oleh para
anggota keraton, atau kerabat-kerabatnya, baik yang memiliki hubungan darah
langsung, maupun yang berkerabat akibat pernikahan. Bendara pun memiliki banyak
tingkatan juga di dalamnya, mulai dari yang tertinggi, sampai yang terendah.
Hal ini dapat dengan mudah dilihat dari gelar yang ada di depan nama seorang
bangsawan tersebut.
2.
Priyayi
Priyayi ini sendiri konon berasal
dari dua kata bahas Jawa, yaitu “para” dan “yayi” atau yang berarti para kaum
terdidik. Dalam istilah kebudayaan Jawa, istilah priyayi ini mengacu kepada
suatu kelas sosial tertinggi di kalangan masyarakat biasa setelah Bendara atau
ningrat karena memiliki status sosial yang cukup tinggi di masyarakat. Biasanya
kaum priyayi ini terdiri dari para pegawai negeri sipil dan para kaum
terpelajar yang memiliki tingkatan pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan
dengan orang-orang disekitarnya.
3.
Santri
Yang ketiga adalah golongan santri.
Golongan ini tidak hanya merujuk kepada seluruh masyarakat suku Jawa yang
beragama muslim, tetapi, lebih mengacu kepada para muslim yang taat dengan beragama,
yaitu para santri yang belajar di pondok-pondok yang memang banyak tersebar di
seluruh daerah Jawa.
4.
wong
cilik
wong cilik atau golongan masyarakat
biasa yang memiliki kasta terendah dalam pelapisan sosial. Biasanya golongan
masyarakat ini hidup di desa-desa dan bekerja sebagai petani atau buruh.
Golongan wong cilik pun dibagi lagi menjadi beberapa golongan kecil lain yaitu:
a.
Wong
Baku: golongan ini adalah golongan tertinggi dalam golongan wong cilik,
biasanya mereka adalah orang-orang yang
pertama mendiami suatu desa, dan
memiliki sawah, rumah, dan juga pekarangan.
b.
Kuli
Gandok atau Lindung : masuk di dalam golongan ini adalah para lelaki yang telah
menikah, namun tidak memiliki tempat tinggal sendiri, sehingga ikut menetap di
tempat tinggal mertua.
c. Joko, Sinoman, atau Bujangan : di
dalam golongan ini adalah semua laki-laki yang belum menikah dan masih tinggal
bersama orang tua, atau tinggal bersama orang lain. Namun, mereka masih dapat
memiliki tanah pertanian dengan cara pembelian atau tanah warisan.
Selain pelapisan sosial masyarakat, dalam sistem
kemasyarakatan ini kami akan membahas tentang bentuk desa sebagai kesatuan
masyarakat terkecil setelah rt dan rw yang umum ditemui di masyarakat Jawa.
Desa-desa di Jawa umumnya dibagi-bagi menjadi bagian-bagian
kecil yang disebut dengan dukuh, dan setiap dukuh dipimpin oleh kepala dukuh.
Di dalam melakukan tugasnya sehari-hari, para pemimpin desa ini dibantu oleh
para pembantu-pembantunya yang disebut dengan nama Pamong Desa. Masing-masing
pamong desa memiliki tugas dan perananya masing-masing. Ada yang bertugas
menjaga dan memelihara keamanan dan ketertiban desa, sampai dengan mengurus
masalah perairan bagi lahan pertanian warga.
C. Sistem
Pengetahuan
Salah satu bentuk sistem pengetahuan
yang ada, berkembang, dan masih ada hingga saat ini adalah bentuk penanggalan
atau kalender. Bentuk kalender Jawa menurut kelompok para ahli, adalah salah
satu bentuk pengetahuan yang maju dan unik yang berhasil diciptakan oleh para
masyarakat Jawa kuno, karena penciptaanya yang terpengaruh unsur budaya islam,
Hindu-Budha, Jawa Kuno, dan sedikit adanya pengaruh budaya barat. Namun tetap
dipertahankan penggunaanya hingga saat ini. Walaupun penggunaanya yang cukup
rumit, tetapi kalender Jawa lebih lengkap dalam menggambarkan penanggalan,
karena di dalamnya berpadu dua sistem penanggalan, baik penanggalan berdasarkan
sistem matahari (sonar/syamsiah) dan juga penanggalan berdasarkan perputaran
bulan (lunar/komariah).
Pada sistem kalender Jawa, terdapat
dua siklus hari yaitu siklus 7 hari seperti yang kita kenal saat ini, dan
sistem pancawara yang mengenal 5 hari pasaran. Sejarah penggunaan kalender Jawa
baru ini, dimulai pada tahun 1625, dimana pada saat itu, sultan agung, raja
kerajaan mataram, yang sedang berusaha menyebarkan agama Islam di pulau Jawa,
mengeluarkan dekrit agar wilayah kekuasaanya menggunakan sistem kalender
Hijriah, namun angka tahun Hijriah tidak digunakan demi asas kesinambungan.
Sehingga pada saat itu adalah tahun 1025 hijriah, namun tetap menggunakan tahun
saka, yaitu tahun 1547.
D. Bahasa
Banyak orang yang beranggapan kalau bahasa Jawa hanya sebagai
bahasa ibu dan bahasa pergaulan sehari-hari masyarakat suku Jawa. Tetapi ternyata
di dalamnya pun dikenal berbagai macam tingkatan dan undhak-undhuk basa.
Sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu asing, mengingat beberapa bahasa lain
yang berada dalam rumpun austronesia pun dikenal undhak-undhuk dalam berbahasa.
1. Bahasa
lisan.
Bahasa Jawa yang satu asal dengan
bahasa di sekitar pulau Jawa, seperti Bahasa Sunda, Bahasa Melayu, Bahasa
Madura, Bahasa Philipina, dan sebagainya. Menurut penelitian para ahli bahasa,
terutama yang dilakukan oleh Pater J.W. Smith sarjana asal Autria,
bahasa-bahasa di Indonesia telah berhasil Ia petakan.
Menurut Pater J.W. Smith Bahasa-bahasa di
Indonesia dibedakan menurut dua mata angin. Bahasa-bahasa di sebelah
barat dan di sebelah utara.
a.
Bahasa-bahasa di sebelah barat dan di sebelah utara meliputi:
1)
Di Jawa: Bahasa Jawa, Bahasa Sunda dan Bahasa Madura.
2)
Di Pulau Sumatra dan pulau-pulau di sekitarnya: Bahasa Melayu,
Bahasa Batak, Bahasa Aceh, Bahasa Lampung, Bahasa Nias, dan lain-lain.
3)
Di Kalimantan: Bahasa Dayak.
4)
Di Sulawesi: Bahasa
Makasar, Bahasa Bugis, Bahasa Tombulu, Bahasa
Tonse, Bahasa Tondano, dan lain-lain.
b.
Bahasa-bahasa di sebelah timur.
Adapun bahasa-bahasa di sebelah timur adalah
bahasa-bahasa yang terdapat di pulau-pulau kecil di sebelah timur Pulau Jawa
hingga pulau-pulau di sekitar Kupang, dan sebagainya. Bahasa-bahasa tersebut
adalah:
1) Bahasa Bali
2)
Bahasa Sasak
3) Bahasa Sumba
4) Bahasa Bima
5) Bahasa Sumbawa
6) Bahasa Rotai
7) Bahasa timur, dan
lain-lain
Bahasa-bahasa di Indonesia dan wilayah
sekitarnya pada awalnya merupakan satu asal. Jika kemudian terpecah-pecah
menjadi berbagai macam-macam bahasa, terutama disebabkan oleh karena Indonesia
terdiri dari berbagai banyak pulau. Keadaan geografis tersebut menyebabkan
berkurangnya pengaruh bahasa satu dengan yang lain. Hal ini juga menyebabkan
bergeser dan berubahnya sebuah kata, pengertian dan maksudnya. Bergeser dan berubahnya ini juga menyebabkan perbedaan
cara menyusun kata dan kalimat, sehingga muncul bermacam-macam cengkok
bahasa(dialeg). Sehingga sama-sama Bahasa Jawa tempat tempat satu dengan yang
lain cengkoknya tidak sama baik itu hal baiknya, kasar atau halusnya. Menurut
beberapa pendapat sampai saat ini, cengkok bahasa jawa yang dianggap baik dan
halus adalah:
a. Cengkok Surakarta.
b. Cengkok Ngayogyakarta.
Pendapat yang demikian itu sudah semestinya,
karena di situ tempat orang-orang yang mengolah keindahan bahasa sehingga
pantaslah jika kedua tempat itu bahasanya masih dianggap murni. Tentu saja
semua bahasa harus benar cara menyusun kata, cengkok, dan sususanan kalimatnya.
Dengan masuknya agama Hindu pada abad ke 2
di tanah Jawa ini, membawa pengaruh dengan lahirkan bahasa baru yang disebut
Bahasa Jawa Kuna. Bahasa Jawa Kuna ini lahir, karena adanya percampuran bahasa
pribumi dengan bahasa Sansekerta yang dibawa oleh para penganut agama Hindu.
Kata-kata Sansekerta ini banyak sekali dan tidak lagi dirasakan sebagai kara
yang berasal dari bahasa asing. Kata-kata tersebut misalnya adalah: nagara,
iswara, budaya, sastra, bedaya, basa,putra, para, swara, dan sebagainya.
Memasuki abad ke-15 agama Hindu mulai terdesak
dengan masuknya agama Islam ke tanah jawa. Dan selanjutnya banyak orang yang memeluk
agama baru tersebut. Seperti bahasa Sansekerta yang dibawa oleh agama Hindu,
masuknya agama Islam ke tanah jawa juga membawa pengaruh perubahan dalam
bahasa. Kebanyakan bahasa Arab yang dibawa oleh agama Islam erat kaitannya
dengan unsur kegiatan keagamaan. Kata-kata tersebut misalnya: pikir, makna,
magrib, subuh,sipat, ajal, kalal, salam, urmat, kiyamat, berkah, jaman, dan sebagainya.
Dengan masuknya Portugis di Indonesia pada ke-16
mau tidak mau membawa pengaruh dalam bahasa jawa. Kata-kata serapat yang
terpengaruhi oleh bahasa Portugis adalah: meja, greja, tembako, gendera,
bal, minggu, dan sebagainya.
Masuknya pedagang-pedang dari Cina juga membuat
kata serapan baru lagi dalam bahasa jawa. Kata-kata serapan itu antara lain
adalah: tahu, cawan, saoto, kuwih, mangkok, conto, dacin, teh, loteng,
dan sebagainya. Biasanya kata-kata serapan dari bahasa Cina yang dibawa oleh
pedagang Cina berhubungan dengan perdagangan. Karena lahirnya kata-kata serapan
ini muncul melaui komunikasi antara pedagang
Bahasa melayu yang terserap oleh bahasa jawa tidak terlaulu
banyak tetapi bahasa jawa yang terserap oleh bahasa melayu lumayan banyak. Kata-kata
yang termasuk dalam bahasa jawa adalah: tempo,
bung, kerja, pengaruh, gencatan, senjata, naskah, istimewa dan sebagainya.
Pada masa penjajahan Belanda dan Inggris tentu saja banyak
kata serapan yang diserap oleh bahasa jawa: buku,
bangku, lampu, potelot, bensin, mesin, sekolah, pen, grip, montor,karcis,
onder, residen, gubernur,dokter, dan sebagainya,
Ketika seseorang berbicara selain harua memperhatikan
kaidah-kaidah tata bahasa, juga masih harus memperhatikan siapa yang diajak
berbicara. Berbicara kepada orang tua maupun kepada anak kecil atau yang
seumuran. Kata-kata atau bahasa yang ditujukan pada orang lain inilah yang
disebut Unggah-unghing bahasa.Unggah-unghing bahasa Jawa antara lain adalah:
a. Basa ngoko:
1) Ngoko lugu
2) Ngoko Andhap
b. Basa madya:
1) Madya ngoko
2) Madya krama
3) Madyatara
c. Basa karma:
1) mudha krama
2) Kramantara
3) Wredha krama
4) krama inggil
5) Krama desa
d. Basa kedhaton/ basa bawongan
Bahasa kedhaton/basa bawongan adalah
bahasa yang digunakan para abdi dalem Kerathon
Selain
undhah-undhuh atau tingkatan bahasa, dikenal juga dialek yang berbeda-beda
diantara orang-orang Jawa itu sendiri. Dalam hal ini, perbedaan dialek, dibagi
menjadi 3 daerah, yaitu kelompok barat, tengah dan timur.
a.
Kelompok barat terdiri dari:
1)
Dialek Banten
2)
Dialek Cirebon
3)
Dialek Tegal
4)
Dialek Banyumas
5)
Dialek Bumiayu
b.
Kelompok tengah terdiri dari:
1)
Dialek Pekalongan
2)
Dialek Kedu
3)
Dialek Bagelen
4)
Dialek Semarang
5)
Dialek Pantai Utara Timur (jepara,Demak,
Rembang, Kudus, Pati)
6)
Dialek Blora
7)
Dialek Surakarta
8)
Dialek Yogyakarta
9)
Dialek Madiun.
c.
Kelompok dialek timur terdiri dari:
1)
Pantura Timur (Tuban, dan Bojonegoro)
2)
Dialek Surabaya
3)
Dialek Malang
4)
Dialek Jombang
5)
Dialek Tengger
6)
Dialek Banyuwangi
2. Bahasa
tulis
Selain
memiliki bahasa lisan tersendiri, masyarakat suku Jawa pun memiliki bahasa
lisan tersendiri yang pada umunya mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Bahasa lisan ini biasa disebut dengan huruf jawa/aksara jawa. Keberadaan huruf Jawa (juga memiliki kemiripan dengan huruf Sunda, Bali, dan sasak) yang dikenal sekarang
ini, tentu tidak lepas dari sejarah yang mengiringinya.
Salah satu cerita tentang sejarah
huruf Jawa ini adalah cerita tentang
Ajisaka yang pada awalnya mencipatakan aksara Jawa yang dikenal dengan istilah Dhentawyanjana atau carakan. Aji saka menciptakan aksara Jawa ini pada saat dia sedang
berkelana dengan pengawalnya yang setia yaitu Dora, dan sampai di pegunungan
kendeng. Saat itu Dora bertemu dengan Sembada, sahabatnya. Setelah itu,
terjadilah kesalah pahaman yang mengakibatkan Dora dan Sembada berkelahi karena
masing-masing dari mereka ingin membuktikan siapa dari mereka yang lebih setia
kepada Aji Saka. Dan untuk mengenang jasa kedua pengawalnya tersebut, Aji Saka
menciptakan sebuah syair yang kemudian hari menjadi asal mula dari huruf Jawa
sekarang ini.
Huruf Jawa atau lebih dikenal dengan huruf honocoroko ini terdiri dari 20 huruf, dimana
setiap huruf nya memiliki makna tersendiri, diantaranya:

a. Ha – Hana Hurip Wening Suci – adanya
hidup adalah kehendak dari yang
Maha Suci.
b. Na
- Nur Gaib, Candra Gaib, Warsitaning Gaib – pengharapan
manusia
hanya selalu ke sinar Ilahi.
c. Ca
– Cipta Wening, Cipta Mandulu, Cipta
Dadi – arah dan tujuan pada
yang Maha Tunggal.
d. Ra
– Rasaingsun Handulusih – rasa cinta
sejati muncul dari rasa kasih
nurani.
e. Ka
– Kersaningsun Memayu Hayuning Bawana
– hasrat diarahkan untuk
kesejahtraan alam.

a. Da
– Dumadining Dzat kang tanpa
winangenan – menerima hidup apa
adanya.
b. Ta
– Tatas, Titis, Tutus, Titi lan Wibawa
– mendasar, totalitas, satu
visi, ketelitian dalam memandang
hidup.
c. Sa
– Sifat Ingsun Handulu Sifatullah –
membentuk kasih sayang seperti
kasih Tuhan.
d. Wa–
Wujud Hana Tan Kena Kinira – ilmu
manusia hanya terbatas,
namun implikasinya bisa tanpa batas.
e. La
– Lir Handaya Paseban Jati –
mengalirkan hidup sebatas pada
tuntunan Ilahi.

a. Pa
– Papan Kang Tanpa Kiblat – Hakikat
Allah yang ada di segala arah.
b. Da
– Dhuwur Wekasane Endek Wiwitane –
Untuk bisa diaatas tentu
dimulai dari dasar.
c. Ja
– Jumbuhing Kawula Lan Gusti – selalu
berusaha menyatu,
memahami kehendaknya.
d. Ya
– Yakin Marang Samubarang Tumindak
Kang Dumadi – yakin atas
titah atau kodrat Ilahi.
e. Nya–
Nyata Tanpa Mata, Ngerti Tanpa
Diuruki – memahami kodrat
kehidupan

a. Ma
– Madep, Mantep, Manembah, Mring Ilahi
– yakin atau mantap
dalam menyembah Ilahi.
b. Ga
– Guru Sejati Sing Mruki – belajar
dari guru nurani.
c. Ba
- Bayu Sejati Kang Andalani -
menyelaraskan diri pada gerak
alam.
d. Tha
– Tukul Saka Niat – sesuatu harus
tumbuh dan dimulai dari niatan.
e. Nga
– Ngracut Busananing Manungso –
melepaskan egoisme pribadi.
E.
Seni
Kesenian
Setelah memenuhi
kebutuhan fisik manusia, manusia juga memerlukan sesuatu yang dapat memenuhi
kebutuhan psikis mereka sehingga lahirlah kesenian yang dapat memuaskan. Sejak
zaman prasejarah orang jawa telah mengenal seni. Pada mulanya orang jawa mulai
membuat seni seperti cincin, kalung, gelang, patung-patung kecil dan lain-lain.
Awal mulanya hasil karya yang dibuat oleh orang jawa dipakai untuk peralatan
upacara persembahan kepada yang gaib.
Selain dipakai untuk peralatan upacara persembahan kepada
yang gaib orang jawa membuat seni bertujuan untuk mengungkapkan rasa seni, rasa
takut, rasa hormat, rasa senang, rasa haru dan sebagainya. Kronologinya
lahirnya seni ditengah-tengah orang jawa sebagai berikut; dahulu pada waktu ada
acara ritual penebangan pohon peserta upacara yang bekerjasama melakukan
penebangan pohon besar itu. Dalam pelaksanaan upacara penebangan pohon tersebut
para peserta menghias diri dengan mengoleskan warna-warna alam pada badan dan
lengan mereka. Tidak jarang peserta dalam upacara ritual penebangan pohon
tersebut mengenakan bulu-bulu dan daun-daun untuk menghias kepala serta tubuh
mereka.
Hasil seni tampak lebih jelas dan lebih terasa nilai
estetikanya ketika orang Jawa menciptakan seni yang berhubungan dengan
keperluan pemujaan kepada nenek moyang atau untuk keperluan religuis lainnya.
Menurut kepercayaan orang Jawa roh nenek moyang akan marah apabila jika anak
cucu mereka lupa melakukan menjalankan ritual mereka. Maka dari itu anak cucu
yang masih hidup secara berkala mengadakan upacara pemujaan kepada roh nenek
moyang untuk meminta “berkah” dan “restu”, misalnya upacara “nyadran”, sedekah
laut, dan lain-lain.
Macam-macam seni kebudayaan Jawa antara lain adalah:
1.
Seni
Bangunan
Kesenian jawa mengalami perkembangan
pesat setelah mendapat pengaruh kesenian Hindu dan Budha masuk ke tanah jawa.
Setelah mengenal tulisan dan mengenal dewa-dewa menurut agama Hindu, wawasan
orang jawa akan seni bertambah luas terhadap kebudayaan pada umumnya dan
kesenian pada khususnya. Orang Jawa mengenal seni Hindu melalui Cilpasastra,
Cilpasastra adalah buku petunjuk tentang seni bangunan. Sejak itu orang Jawa
mulai mendirikan bangunan seni berupa bangunan candi dan stupa sebagai bangunan
suci tempat beribadah agama Hindu dan agama Budha.
Bentuk bangunan candi merupakan
perkembangan bentuk seni”Cungkup” dengan mengenalkan bentuk dasar “meru” yaitu
penggayaan bentuk gunung Mahameru atau gunung Himalaya sebagai tempat
bersemayam para dewa. Bentuk meru pada candi berpengaruh pada bentuk, atap
rumah yang disebut rumah “joglo". Rumah joglo adalah rumah yang beratap
meru. Atap meru sering dibuat bersusun yang disebut “tumpang” dengan “soko
guru”di dalamnya. Soko guru adalah empat buah tiang pokok di tengah-tengah
banguan rumah jawa.
2.
Seni
Pahat
Masuknya Agama Budha juga
meningkatkan kemampuan seni orang jawa. Peningkatan seni orang jawa disini
dapat dilihat berupa peningkatan seni kemampuan orang jawa dapat berupa
kemampuan seni berupa kemampuan peningkatan seni pahat patung ukir di tanah
jawa. Dalam agama Budha seni pahat patung digunakan sebagai media untuk tafakur
atau samadi dalam hubungannya dengan pemujaan terhadap dewa-dewa. Seni pahat
pada masa ini mempengaruhi seni ukir kayu, baik seni ukir bebas maupun seni
ukir terapan. Masuknya orang-orang Cina
yang terdiri dari tukang kayu pada masa perkembangan agama Budha di
tanah Jawa juga mempengaruhi perkembangan seni ukir Jawa menjadi pesat.
Mataram, Pejajaran, dan Majapahit merupakan pusat-pusat kerajaan yang
mengembangkan seni ukir. Kota Jepara dan sekitarnya merupakan pusat
perkembangan seni ukir yang lestari hingga saat ini. Hal ini disebabkan karena:
a. Seni ukir Jepara banyak digunaka
pada perabot rumah tangga,
b. Daerah Jepara dan sekitarnya banyak
mengahasilkan kayu jati sebagai bahan bakunya.
c. Gaya seni ukir Jepara luwes dan
cantik
3.
Seni
Kria Batik
Berbeda dengan seni ukir, seni kria batik ini juga pernah
mengalami puncak kejayaannya pada zaman berdirinya kerajaan-keraajan di jawa.
Tempat-tempat yang masyarakat memproduksi kain batik sandang melahirkan corak
batik tersendiri seperti batik corak Banyumasan , batik corak Wonogiri, batik
corak Mataram, batik corak Lasem dan sebagainya. Di Jawa Timur juga muncul
beberapa corak batik seperti batik corak Ponorogo, Tulungagung dan
lain-lainnya.
Produksi kain batik sandang daerah Jawa Tengah sampai
sekarang masih bertahan, sehingga batik Jawa Tengah dijadikan lambing jati diri
Jawa Tengah. Nilai kain batik pada zaman modern ini justru terangakat menjadi
busana kebesaran pada tingkat nasional. Dalam upacara resmi, upacara perkawinan
dan dalam pesta-pesta orang lebih condong mengenakan busana batik
Dahulu batik motif parang rusak dan garis miring hanya boleh
dipakai oleh “trah” (keturunan) Mangku Negara dan keluarga. Sampai pada
tingkatan cucu masih diperkenalkan memakai motif parang rusak tetapi motif
parang yang berukuran kecil. Untuk para istana dan para istana dan para istiri
raja motif yang disediakan adalah ceplok dan berlatar belakang hitam.
4.
Seni
Keris
Seni keris adalah salah satu senjata tikam tradisional yang
berasal dari jawa. Isitilah keris telah dijumpai pada kira-kira abad VIII.
Prasasti Karangtengah berangka tahun 748 Saka atau 824 Masehi telah
menyebut-nyebut beberapa peralatan seperti lukai, pulukan, wadug, paluk, kres.
Demikian pula prasasti Poh yang berangka tahun 829 Saka atau 907 Masehi
menyebutkan beberapa peralatan sesaji untuk menetapakan “Poh”sebagai tanah
“Pardikan”(bebas pajak). Peralatan sesaji itu diantara lain berupa kress tewek
punukan. Kres maksudnya adalah keris(Harsnukksma, 1988: 19).
Jika ditelusuri lebih jauh, senjata keris mungkin sekali
merupakan perkembangan senjata yang dibuat oleh orang jawa pada zaman
prasejarah. Dahulu orang jawa menggunakan alat yang dibuat dari duri ikan pari
untuk menangkap ikan. Pada zaman perunggu orang jawa telah pandai membuat alat
dan senjata dari perunggu seperti kapak corong yang disebut candrasa serta
pisau belati untuk keperluan hidup sehari-hari. Prasasti Dakuwu yang di temukan
di daerah Grabag, Magelang yang dibuat kira-kira pada tahun 500 yang di atas tulisan
terdapat gambar-gambar antara lain trisula, kapak, kudi, dan belati yang
bentuknya menyerupai keris. Selain di daerah Grabag, Magelang, ternyata di
Candi Borobudur(tahun 820) telah ditemukan gambar relief yang menunjukan bahwa
pada waktu itu telah dibuat keris yang berbentuk logam, dan ornamennya cukup
bagus.
Walaupun sebagai senjata tikam, namun keris tidak selalu
digunakan untuk membunuh. Keris dimanfaatkan sebagai seni yang mengandung
perlambang. Bagi orang-orang percaya adanya kekuataan gaib, keris dipercaya
menambah keberanian seseorang. Keris dapat mengahalau penayakit atau hama
tanaman, keris juga dapat mendatangkan rejeki dan pangkat, keris juga dipercaya
menyingkirkan roh halus.
Untuk menggagungkannya, keris juga memiliki nama dan sebutan
masing-Masing Kyai, Kyai Ageng, Kanjeng Kyai Ageng, contohnya Kyai Setan Kober,
Kyai Kala Nadha, Kanjeng Kyai Ageng Sengklet dan lain-lain. Orang yang ahli
membuat keris disebut “Empu”. ”Empu” yang terkenal pada zaman kerajaan Tumampel
adalah Empu Gandring, pada zaman kerajaan Demak adalah Empu Supa. Empu
Kriyasana dari desa Ngetos suatu daerah dikaki gunung Wilis, tersohor setelah perang
Diponegoro.
Keris adalah hasil budaya jawa asli. Keris tidak berasal
dari negri lain, bukan dari India. Karena Candi-candi di India tidak memuat
gambar keris, dan orang India tidak pernah memakai keris.
Ditinjau dari cara pembuatannya keris dapat dibagi menjadi 3
golongan, yaitu:
a. Keris “ageman”, yang dipentingkan
bentuk lahir.
b. Keris “tayuhan”, yang dipentingkan
adalah tuah dan gaibnya.
c. Keris “pusaka”, yang dipentingkan
bentuk dan tuahnya.
5.
Seni
Sasta.
Perkembangan
seni sastra menjadi sangat pesat perkembangaannya sejak dikenalnya tulisan.
Orang jawa tidak hanya mengenal sastra lisan yang berbentuk mantra-mantra,
melainkan juga sastra tulis. Hasil seni sastra yang dianggap tinggi mutunya
adalah serat Pustaka Raja Purwa yang dibuat kira-kira pada tahun 839 oleh Prabu
Jayabaya raja Kediri. Di dalam serat Pustaka Raja Purwa terdapat serat
Mahadarama. Kesustraan pada zaman Kediri berisi riwayat hidup keluarga besar
raja-raja Kediri.
Sastra adalah bahasa ekspresi atau bahasa ungkap, yang
dimakasud dengan eksepresi atau bahasa ungkap adalah bentuk bahasa tertentu
yang berfungsi sebagaia alat untuk mengekspresikan pribadi seseorang masyarakat
pemakainya (Soetomo, 1989:4)
6. Seni musik dan seni tari
Masuknya kebudayaan Hindu ditanah jawa membuat seni musik
dan seni tari berkembang pesat. Dahulu sebelum masuknya kebudayaan Hindu
ditanah jawa orang jawa hanya mengenal isntrumen seni gendang saja., namun
sejak masuknya agama Hindu akhirnya orang jawa mengenal instrument “gamelan”
beserta lagu-lagunya. Gamelan jawa dibuat dari perunggu jawa.
Orang jawa menyebut tangga nada gamelan disebut “raras”.
Raras artinya adalah hati atau rasa. Orang jawa sering mengucapkan kata “raras”
dengan “laras”. Ada dua macam “raras” gamelan, yaitu raras “sledro” dan raras
“pelog”. Perbedaan antara raras” gamelan, antara raras “sledro” dan raras
“pelog” terletak pada jumlah nada dalam satu ”gembyang” (oktaf) dan “sruti”
(interval). Tiap satu gembyang raras.
Terdiri dari lima nada, yaitu nada 1-2-3-4-5-6 dengan sruti 240-240-240-240.
Tiap satu gembyang raras pelog terdiri dari tujuh nada, yaitu nada
1-2-3-4-5-6-7 dengan sruti 150-150-225-150-150-150-225
Gamelan diciptakan oleh Sang Hyang Guru ketika “Ngejawantah”
(berwujud manusi) dan menjadi raja di Medangkamolan, letaknya di puncak gunung
Mahendra sekarang gunung (Lawu). Gamelan dibuat pada tahun 167 dengan
“Sengkalan” atau candra sengkalam (perhitungan angka tahun jawa berdasarkan
peredaran bulan)
Dengan masuknya agama Hindu dan Buddha di Indonesia membuat
upacara keagamaan dalam berbagai ritual suci dan seni berubah. Hal ini terlihat
dengan ritual agama Hindu di Indonesia seperti Ramayana, Mahabharata, dan juga
Cerita Panji menjadi ilham untuk ditampilkan dalam tari-drama yang disebut
"Sendratari" menyerupai "ballet" dalam tradisi barat. Suatu
metode tari yang rumit dan sangat bergaya diciptakan dan tetap lestari hingga
kini, terutama di pulau Jawa. Sendratari Jawa Ramayana dipentaskan secara rutin
di Candi Prambanan, Yogyakarta. Tarian Jawa Wayang orang mengambil cuplikan
dari episode Ramayana atau Mahabharata. Akan tetapi tarian ini sangat berbeda
dengan versi India. Meskipun sikap tubuh dan tangan tetap dianggap penting,
tarian Indonesia tidak menaruh perhatian penting terhadap mudra/ritual
keagaaman seperti sebagaimana tarian India: bahkan lebih menampilkan bentuk
lokal.
Tari ritual suci Jawa seperti tari Bedhaya dipercaya berasal
dari masa kerajaan Majapahit pada abad ke-14 bahkan lebih awal, tari ini
berasal dari tari ritual yang dilakukan oleh gadis perawan untuk memuja
Dewa-dewa Hindu seperti Dewa Shiwa, Dewa Brahma, dan Dewa Wishnu.
Menurut relief dari candi
di Jawa Timur dari abad ke-14 menampilkan mahkota dan hiasan kepala yang
terinspirasi dari ritual suci agama Hindu.
Hal ini menampilkan kesinambungan tradisi yang luar biasa yang tak terputus
selama sedikitnya 600 tahun. Beberapa tari sakral dan suci hanya boleh
dipergelarkan pada upacara keagamaan tertentu. Masing-masing tari Jawa memiliki
kegunaan tersendiri, mulai dari tari suci untuk ritual keagamaan yang hanya
boleh ditarikan di dalam Tempat Pemujaan, tari yang menceritakan kisah dan legenda
popular. Salah satu tari yang berasal dari kebudayaan Jawa adalah tari
topeng juga sangat populer di Jawa dan Bali, umumnya
mengambil kisah cerita Panji yang dapat dirunut berasal dari sejarah Kerajaan
Kediri abad ke-12. Jenis tari topeng
yang terkenal adalah tari topeng Cirebon dan topeng Bali.
Hal yang membedakan tari keraton Jawa dengan tarian Bali
adalah: tarian Jawa lebih menekankan kepada keanggunan dan gerakannya yang
lambat dan lemah gemulai, sedangkan tarian Bali lebih dinamis dan ekspresif.
Setelah masuknya Agama Islam
ke kepulauan Nusantara. Tidak semat-mata membuat tarian yang dipengaruhi oleh
agama Hindu dan agama Budha hilang. Seniman dan penari masih menggunakan gaya
dari era sebelumnya, hanya menganti kisah cerita yang sesuai dengan penafsiran
Islam dan busana yang lebih tertutup sesuai ajaran Islam. Pergantian ini sangat
jelas dalam Tari Persembahan dari Jawa. Penari masih dihiasi perhiasan emas
yang rumit dan ramai seperti pada masa Hindu-Buddha, tetapi pakaiannya lebih
tertutup sesuai etika kesopanan berbusana dalam ajaran Islam.
Dalam tarian Jawa yang
bernuansa Isalami menggunakan alat musik khas Arab dan Persia, seperti rebana,
tambur, dan gendang yang menjadi alat musik utama dalam tarian bernuansa Islam,
begitu pula senandung nyanyian pengiring tarian yang mengutip doa-doa Islami.
Memang
tidak banyak peninggalan taraian Jawa yang bernuansa Isalami.
Salah satu taraian Jawa yang bernuansa
Isalami adalah tari Kundaran
yang berasal dari Jawa Timur. Tarian ini menggambarkan kegembiraan
para gadis setelah selesai membaca Al-Quran/Hatam Al-Quran. Tarian daerah Jawa
Timur ini sangat terpengaruh dengan gerakan daerah Bali dan bernuansakan Islam
Tarian di Indonesia
mencerminkan sejarah panjang Indonesia. Beberapa keluarga bangsawan yang
berasal dari berbagai istana dan keraton yang berada di Pulau Jawa hingga saat kini
masih bertahan di berbagai bagian Indonesia menjadi benteng pelindung dan
pelestari budaya istana. Perbedaan paling jelas antara tarian istana dengan
tarian rakyat tampak dalam tradisi tari Jawa. Strata masyarakat Jawa yang
berlapis-lapis dan bertingkat tercermin dalam budayanya. Jika golongan
bangsawan kelas atas lebih memperhatikan pada kehalusan, unsur spiritual,
keluhuran, dan keadiluhungan. Akan tetapi masyarakat kebanyakan lebih
memperhatikan unsur hiburan dan sosial dari tarian. Sebagai akibatnya tarian
istana lebih ketat dan memiliki seperangkat aturan dan disiplin yang
dipertahankan dari generasi ke generasi, sementara tari rakyat lebih bebas, dan
terbuka atas berbagai pengaruh.
Perlindungan kerajaan
atas seni dan budaya istana umumnya digalakkan oleh pranata kerajaan sebagai
penjaga dan pelindung tradisi mereka. Misalnya para Sultan dan Sunan dari Keraton Yogyakarta
dan Keraton Surakarta
terkenal sebagai pencipta berbagai tarian keraton lengkap dengan komposisi gamelan
pengiring tarian tersebut.
7.
Wayang
Wayang dalam
bentuk yang asli merupakan kreasi budaya orang Jawa yang berisi berbagai aspek
kebudayaan Jawa. Wayang sudah ada jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu ke
Indonesia. Pada jaman Neolitikum pertunjukan wayang awalnya terdiri atas
upacara-upacara keagamaan yang berlangsung di malam hari untuk persembahan
kepada “Hyang”. Pertunjukan wayang ceritanya menggambarkan jiwa kepahlawanan
para nenek moyang yang ada dalam mitologi.
Pada masa
sekarang pertunjukan wayang sudah sangat berbeda jika dibandingkan dengan
pertunjukan yang sama dimasa lampau. Dahulu wayang digambarkan sesuai dengan
wajah nenek moyang. Orang Jawa gemar sekali menonton wayang karena ceritanya
berisi pelajaran-pelajaran hidup yang sangat berguna yang dapat dijadikan
pedoman dan tuntunan di dalam menjalani hidup di masyarakat. Pementasan wayang
selalu diiringi dengan musik gamelan. Berdasarkan cerita dan penyajian
kira-kira ada 40 jenis wayang yang ada di Indonesia, diantaranya wayang beber,
wayang klithik, wayang kulit, wayang krucil dan wayang thengul atau wayang
golek. Beberapa peninggalan wayang yang hingga kini masih sering ditampilkan
antara lain adalah wayang kulit dan wayang uwong atau wayang orang..
a. Wayang
Kulit
Wayang kulit
biasanya dibuat dari kulit kerbau atau kulit lembu. Wayang kulit kini telah
menjadi warisan budaya nasional dan sudah sangat terkenal di dunia sehingga
banyak orang asing yang datang dan mempelajari seni perwayangan. Pertunjukan
wayang kulit sampai saat ini tetap digemari sebagai tontonan yang menarik,
biasanya disajikan semalam suntuk.
Wayang kulit
adalah seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Jawa. Wayang
berasal dari kata 'Ma Hyang'
yang artinya menuju kepada roh spiritual, dewa, atau Tuhan Yang Maha Esa.
Ada juga yang mengartikan wayang adalah istilah bahasa Jawa yang bermakna
'bayangan', hal ini disebabkan karena penonton juga bisa menonton wayang dari
belakang kelir atau hanya bayangannya saja. Wayang kulit dimainkan oleh seorang
dalang yang juga
menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang, dengan diiringi oleh musik gamelan yang
dimainkan sekelompok nayaga dan tembang yang dinyanyikan oleh para pesinden.
Dalang memainkan wayang kulit di balik kelir, yaitu layar
yang terbuat dari kain putih, sementara di belakangnya disorotkan lampu listrik
atau lampu minyak (blencong), sehingga para penonton yang berada di sisi lain
dari layar dapat melihat bayangan wayang yang jatuh ke kelir. Untuk dapat
memahami cerita wayang (lakon), penonton harus memiliki pengetahuan akan tokoh-tokoh
wayang yang bayangannya tampil di layar.
Secara umum
wayang mengambil cerita dari naskah Mahabharata
dan Ramayana,
tetapi tak dibatasi hanya dengan pakem (standard) tersebut, ki dalang bisa juga memainkan lakon
carangan (gubahan). Beberapa cerita diambil dari cerita
Panji. Pertunjukan wayang kulit kini telah diakui oleh UNESCO pada tanggal
7 November 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita
narasi dan warisan yang indah dan berharga ( Masterpiece
of Oral and Intangible Heritage of Humanity ). Wayang kulit
lebih populer di Jawa
bagian tengah dan timur, sedangkan wayang
golek lebih sering dimainkan di Jawa Barat.
Wayang kulit dibuat dari bahan kulit kerbau
yang sudah diproses menjadi kulit lembaran, perbuah wayang membutuhkan sekitar
ukuran 50 x 30 cm kulit lembaran yang kemudian dipahat dengan peralatan yang
digunakan adalah besi berujung runcing berbahan dari baja yang berkualitas
baik. Besi baja ini dibuat terlebih dahulu dalam berbagai bentuk dan ukuran,
ada yang runcing, pipih, kecil, besar dan bentuk lainnya yang masing-masing
mempunyai fungsinya berbeda-beda.
Namun pada
dasarnya, untuk menata atau membuat berbagai bentuk lubang ukiran yang sengaja
dibuat hingga berlubang. Selanjutnya dilakukan pemasangan bagian-bagian tubuh
seperti tangan, pada tangan ada dua sambungan, lengan bagian atas dan siku,
cara menyambungnya dengan sekrup kecil yang terbuat dari tanduk kerbau atau
sapi. Tangkai yang fungsinya untuk menggerak bagian lengan yang berwarna
kehitaman juga terbuat berasal dari bahan tanduk kerbau dan warna keemasannya
umumnya dengan menggunakan prada yaitu kertas warna emas yang ditempel atau
bisa juga dengan dibron, dicat dengan bubuk yang dicairkan. Wayang yang
menggunakan prada, hasilnya jauh lebih baik, warnanya bisa tahan lebih lama
dibandingkan dengan yang bront.
b. Wayang
Wong/orang
Wayang Wong
berarti wayang yang diperankan oleh manusia. Ceritanya juga hampir sama dengan
cerita-cerita pada wayang kulit namun dalangnya disamping sebagai penata cerita
tetapi juga sekaligus sebagai sutradara panggung.
Wayang orang disebut juga dengan
istilah wayang wong (bahasa Jawa) adalah wayang yang
dimainkan dengan menggunakan orang sebagai tokoh dalam cerita wayang tersebut.
Wayang orang diciptakan oleh Sultan Hamangkurat I pada tahun 1731.
Sesuai dengan
nama sebutannya, wayang tersebut tidak lagi dipergelarkan dengan memainkan
boneka-boneka wayang (wayang kulit yang biasanya terbuat dari bahan kulit
kerbau ataupun yang lain), akan tetapi menampilkan manusia-manusia sebagai
pengganti boneka-boneka wayang tersebut. Mereka memakai pakaian sama seperti
hiasan-hiasan yang dipakai pada wayang kulit. Supaya bentuk muka atau bangun
muka mereka menyerupai wayang kulit (kalau dilihat dari samping), sering kali
pemain wayang orang ini diubah/dihias mukanya dengan tambahan gambar atau
lukisan dengan menggunakan make-up.
F.
Sistem Mata Pencaharian Hidup dan Sistem
– Sistem Ekonomi
Aktivitas ekonomi tidak hanya
tercemin dalam keagamaan tetapi juga dalam kehidupan perdagangan.
Prasasti-prasasti jawa Tengah180 yang berasal dari abad ke-10 kecuali
menyebutkan adanya kelompok pedagang lokal, juga pedagang asing. Pedagang asing
tersebut pada umumnya berasal dari Asia Selatan, Asia Tenggara daratan seperti
Benggala, Karnataka, Sailan, dan Campa. Namun yang aneh dalam prasati tersebut
tidak disebutkan adanya pedagang Cina, namun sesungguhnya kehadiran pedagang
Cina diyakini kebenarannya dengan adanya peninggalan keramik-keramik dari Cina
yang berasal dari Dinasti Tang(abad ke 9 sampai abad 10) di daerah-daerah dekat
pantai utara maupun di pedalaman Jawa Tengah dan Jawa Timur (Orsyo de Flines
1972: 15-20, Suleiman 1984: 3-4, Boechari 1980. 29)
1. Pada
masa kerajaan Hindu-Budha
Pada abad ke-10 di daerah pesisir
Jawa tengah mulai muncul bandar-bandar internasional atau “Kota-kota pelabuhan”
mulai tumbuh, salah satu tempat di Jawa Tengah adalah di daerah Wurari,
sedangkan di Jawa Timur di sekitar Tuban atau disekitar lembah Sungai Brantas yang
lebih dikenal dengan daerah Ujung Galuh (Rahardjo 1991 Schrieke 1957: 295-297)
Yang mengejutkan pedagang-pedagang
asing pada umumnya memiliki statusnya yang tinggi tetapi pada masa ini pedagang
asing ternyata dinilai memiliki status yang rendah atau sama dengan penduduk
desa dan tidak disukai kehadiranya, karena status ini agaknya benar kalau
golongan dari pedagang asing ini tidak begitu diharapkan kehadirannya. Karena
pedagang asing ini dianggap memberikan pengaruh besar dalam aspek
intelektualnya sebagaimana tercermin dalam seni, arsitektur, agama,
pemerintahan dan sastra (cf. Jones 1984 6-25)
Secara umum dapat dikatakan bahwa
sumber pendapatan kerajaan di Jawa Tengah pada jaman massa Hindu dan Budha
berasal dari hasil bumi dan pajak. Sedangkan retribusinya mungkin terjadi
melalui sistem penggajian kepada pegawai-pegawai kerajaan (cf Goeneveldt 1960).
Berbeda dengan masa Jawa Tengah,
pada masa jawa Timur yang merupakan jaman yang lebih maju, ternyata sudah mulai
meninggalkan bangunan-bangunan purba kala yang cukup banyak. Namun ini berarti
bahwa pengeluaran kerajaan untuk urusan keagamaan masih tetap menduduki tempat
yang tinggi. Di Jawa Timur pusat-pusat bangunan monumental sudah bergesar
kearah selatan, yaitu arah Kediri, kearah utara mendekati pantai, yaitu
Singasari dan Majapahit. Pembagian topografis ini menunjukan perkembangan
Sistem Ekonomi yaitu kronologisnya: Kediri yang tertua, Majapahit yang termuda
dan Singosari terletak diantaranya.
Di kerajaan jawa Timur penghasilan
yang paling pokok adalah pertanian, pajak dan kegiatan perdagangan dengan
pedagang-pedagang dari negri asing. Bukti-bukti dari prasasti dan karya sastra
menunjukan kalau pada masa lampau kerajaan Majapahit membuat program berbagai
macam-macam pajak yang digunakan untuk memperbesar pemasukan kerajaan. Dari
sumber yang sama diketahui kalau hubungan dagan dengan pedagang asing baik
bersifat regional dan internasional mulai berkembang pesat. Pedagang asing
muncul pada kerajaan di jawa Timur. Hal ini menunjukan bahwa kerajaan sudah mulai
berhubungan dengan patner-patner dagangnya yang berasal dari luar negri (cf
Jones 1984:25; Suhadi 19)
Pada masa ini kota-kota pelabuhan
di jawa Timur yang sudah mulai berkembang pesat. Kota-kota pelabuhan di jawa
Timur yang sudah mulai berkembang pesat antara lain adalah Tuban, Sedayu,
Gresik, dan Surabaya. Seiring berkembangnya kota-kota pelabuhan di jawa Timur
sudah mulai berkembang pesat menarik perhatian dari pedagang-pedanga Cina dan
Arab dan tinggal di daerah pesisir laut di jawa Timur (Mills 1970). Bukti-bukti
arkelogis yang menyebutkan bahwa telah terjadi kontak yang intensif antara
pedagang Cina dan Arab dengan kerajaan-kerajaan di jawa Timur khususnya
kerajaan Majapahit. Namun bagi kerajaan-kerajaan di jawa Timur hubungan dagang
dengan pedagang asing lebih terpusat pada kebutuhan-kebutuhan akan simbol
status.
Dari uraian diatas dapat
disimpulkan aktifitas ekonomi pada masa kerajaan-kerajaan di jawa Timur lebih
berkembang pesat jika dibandingkan dengan pada masa kerajaan-kerajaan di jawa
Tengah namun hal pokoknya masih sama yaitu bahwa sektor ekonomi, didominasi
oleh wilayah-wilayah pesisir panyan yang
fungsinya utamanya untuk menyokong aktifitas politik. Para petinggi kerajaan
juga masih membatasi fungsinya pada aspek-aspek politik dan keagamaan dan
berusaha untuk tidak langsung pada urusan ekonomi, kecuali mungkin pejabat
daerah yang menguasai pelabuhan-pelabuhan.
2. Pada
masa kerajaan Islam
Islam adalah agama orang kota yang memilki aturan-aturan yang
dirancang untuk memenuhi tuntutan komonitas komersial. Tatanan pemukimanya juga
mencerminkan orientasi penduduknya yang memiliki semangat dagang yang tinggi.
Dua titik pusat kegiatannya di kota, adalah mesjid sebagai pusat kegiatan
spiritual dan inteletual, dan pasar
sebagai pusat komersial(Grunebaum 1955: 1-2)
Dengan masuknya agama Islam di tanah jawa menyebabkan perdagangan
kota-kota di jawa mulai berkembang.
Pusat kegiatan ekonomi yang paling menonjol di jawa terutama di sepanjang
pantai utara Jawa, khususnya di kota-kota Tuban, Gresik, Surabaya, Jepara dan
juga di Banten ujung barat. Kota-kota yang bereda dipesisir pantai utara kini
menjadi kota yang berkembang kegiatan ekonominya dengan seiringnya masuknya
agama Islam di Indonesia adalah kota-kota disepanjang pantai utara Jawa Timur
dan Madura. Kota-kota tersebut antara lain Sedayu, Lasem, Pasuruan,
Purbolinggo, Besuki, Panarukan, Sumenep, Pemekasaan, Bangkalan, dan beberapa
kota lainnya(cf Cartesao 1944 : 166; Sujipto 1983 : 5-44; Surjo 1985 : 29)
Dari kota-kota tersebut kegiatan perdagangan berkembang pesat
pada abad 15 hingga 17. Kota-kota yang mengalami perkembangan yang sangat pesat
antara lain Tuban, Gresik, Jaratan, dan Surabaya. Dari letak lokasinya
kota-kota tersebut merupakan pertemuan jalur-jalu laut yang menyusuri pantai
dan pantai selatan Madura di satu pihak dan jalur laut yang memanjang yang
menyusuri pantai utara Jawa Timur (Sedyawati dkk 1991/1992 28, 84). Karena
letaknya yang stategis inilah yang menyebakan perdagangan ke wilayah Jawa Timur
berada pada tangan pedagang Jawa dan Melayu, sedangkan para pedagan Cina dan
India selalu membeli barang-barang, khususnya rempah-rempah, di pelabuhan dari
pelabuhan Jawa dari tanggan kedua atau ketiga(long 1977 : 103; Reid 1980 ;
237).
Secara umum dikatakan oleh Wertheim(1956 : 168) bahwa
kota-kota pantai di Jawa lebih bersifat cosmopolitan dibandingkan dengan kota-kota
pedalama. Pedagang asing dan perajin mewakili sebagian besar penduduk kota, dan
mereka masing-masing tinggal di daerah perkotaan secara berkelompok menurut
kesamaan asal-usul kebangsaannya. Meski mereka sering melakukan kontak-kontak
dagang dan sosial dengan bangsa-bangsa asing, namun suasana kota tidak merujuk
sifat borjuis. Sifat pemerintahannya masih mirip seperti berlaku di daerah
pedalaman, yaitu berisfat feudal dan tradisional.
G.
Sistem
peralatan hidup atau teknologi
Sistem yang timbul karena manusia mampu menciptakan barang –
barang dan sesuatu yang baru agar dapat memenuhi kebutuhan hidup dan membedakan
manusia dengam makhluk hidup yang lain. Sistem Sistem peralatan hidup atau
teknologi ini terbagi menjadi 3 bagian: yaitu sistem bangunan, sistem
transportasi, sistem logam.
1. sistem bangunan
Sebagai suatu kebudayaan, suku Jawa tentu memiliki peralatan
dan perlengkapan hidup yang khas diantaranya yang paling menonjol adalah dalam
segi bangunan. Masyarakat yang bertempat tinggal di daerah Jawa memiliki ciri
sendiri dalam bangunan mereka, khususnya rumah tinggal. Ada beberapa jenis rumah yang dikenal oleh masyarakat suku
Jawa, diantaranya adalah rumah limasan, rumah joglo, dan rumah serotong. Rumah
limasan, adalah rumah yang paling umum ditemui di daerah Jawa, karena rumah ini
merupakan rumah yang dihunu oleh golongan rakyat jelata. Sedangkan rumah Joglo,
umumnya dimiliki sebagai tempat tinggal para kaum bangsawan, misalnya saja para
kerabat keraton.
Umumnya rumah di daerah Jawa
menggunakan bahan batang bambu, glugu (batang pohon nyiur), dan kayu jati
sebagai kerangka atau pondasi rumah. Sedangkan untuk dindingnya, umum digunakan
gedek atau anyaman dari bilik bambu, walaupun sekarang, seiring dengan
perkembangan zaman, banyak juga yang telah menggunakan dinding dari tembok.
Atap pada umumnya terbuat dari anyaman kelapa kering (blarak) dan banyak juga
yang menggunakan genting.
Salah satu seni bangunan yang terkenal dari kebudayaan Jawa
adalah Candi Borobudur. Bukti kecanggihan teknologi dan arsitektur Borobudur
adalah candi yang diperkirakan mulai dibangun sekitar 824 M oleh Raja Mataram
bernama Samaratungga dari wangsa Syailendra. Borobudur merupakan bangunan candi
yang memukau.
2. Transportasi
a. Kapal Jung
Kapal Jung Jawa adalah teknologi
kapal raksasa buatan orang –orang jawa. Jauh sebelum Cheng Ho dan Columbus, para
penjelajah laut Nusantara sudah melintasi sepertiga bola dunia. Meskipun sejak
500 tahun sebelum Masehi orang-orang China sudah mengembangkan beragam jenis
kapal dalam berbagai ukuran, hingga abad VII kecil sekali peran kapal China
dalam pelayaran laut lepas. Dalam catatan perjalanan keagamaan I-Tsing (671-695
M) dari Kanton ke Perguruan Nalanda di India Selatan disebutkan bahwa Ia meleawati
Sriwijaya dengan menggunakan kapal Sriwijaya, ketika negeri itu menguasai lalu
lintas pelayaran di aut Selatan Pelaut Portugis. Menurut Diego de Couto dalam buku Da Asia yang terbit
tahun 1645 menyebutkan bahwa, Ia pernah
bertemu denga orang Jawa yang lebih cokelat seperti orang Jawa. Mereka mengaku keturunan
Jawa,kata Couto, sebagaimana dikutip Anthony Reid dalam buku Sejarah Modern
Awal Asia Tenggara.
Berdasarkan
relief kapal di Candi Borobudur membuktikan bahwa sejak dulu nenek moyang kita
telah menguasai teknik pembuatan kapal. Dengan adanya relief kapal di candi Borobudur telah memainkan
peran utama dalam segala hal dalam transportasi pelayaran di Jawa, dengan tiga
atau empat layar sebagai Jung. Kata Jung digunakan pertama kali dalam
perjalanan biksu Odrico jurnal, Jonhan de Marignolli, dan Ibnu Battuta berlayar
ke Nusantara, awal abad ke-14.
Mereka
memuji kehebatan kapal Jawa raksasa sebagai penguasa laut Asia Tenggara.
Teknologi pembuatan Jung tak jauh berbeda dari karya kapal Borobudur; seluruh
badan kapal dibangun tanpa menggunakan paku. Disebutkan, jung Nusantara
memiliki empat tiang layar, terbuat dari papan berlapis empat serta mampu
menahan tembakan meriam kapal-kapal Portugis.
Bobot jung
rata-rata sekitar 600 ton, melebihi kapal perang Portugis. Jung terbesar dari
Kerajaan Demak bobotnya mencapai 1.000 ton yang digunakan sebagai pengangkut
pasukan Nusantara untuk menyerang armada Portugis di Malaka 1513.
b. Andong
Andong
merupakan salah satu alat transportasi tradisional di Solo dan Yogyakarta dan
daerah-daerah di sekitarnya, seperti Klaten, Karanganyar, Boyolali, Sragen, dan
Sukoharjo. Keberadaan Andong sebagai salah satu warisan budaya Jawa memberikan
ciri khas kebudayaan tersendiri yang hingga kini masih terus dilestarikan,
khususnya di Solo.
keberadaan Andong di Solo difungsikan sebagai alat transportasi pengangkut
barang-barang dagangan ibu-ibu dari pedesaan menuju pasar-pasar tujuan. Selain
berfungsi sebagai media pengangkut barang dagangan pasar, Andong juga tidak
jarang berfungsi sesuai dengan aslinya sebagai alat transportasi umum bagi
masyarakat di Solo dan sekitarnya.
Beberapa
orang sering menyebut Andong dengan Dokar atau Bendi atau Delman. Padahal
Andong berbeda dengan Dokar, Bendi atau Delman. Salah kaprah ini muncul karena
informasi yang tidak akurat dan mulai berkurangnya pengajaran-pengajaran serta
pengetahuan. Dokar hanya mempunyai dua roda dan ditarik oleh satu kuda saja,
sedangkan Andong mempunyai roda empat yang bisa ditarik satu atau dua kuda.
Menurut sejarah, model kereta kuda transportasi umum ala Andong dengan roda
empat ini hanya dapat ditemui di Solo dan Yogyakarta saja (di Indonesia).
Inilah yang kemudian membuat Andong berbeda dengan model kereta berkuda lainnya
sekaligus menjadi daya tarik yang unik.
3. Logam
Keris adalah kecanggihan teknologi penempaan
logam Teknologi logam sudah lama berkembang sejak awal masehi di nusantara.
Para empu sudah mengenal berbagai kualitas kekerasan logam. Keris memiliki
teknologi penempaan besi yang luar biasa untuk ukuran masyarakat di masa
lampau. Keris dibuat dengan teknik penempaan, bukan dicor.
Teknik penempaan disertai pelipatan berguna untuk mencari
kemurniaan besi, yang mana pada waktu itu bahan-bahan besi masih bercampur dengan materi- materi alam lainnya. Keris yang
mulanya dari lembaran besi yang dilipat-lipat hingga kadang sampai ribuan kali
lipatan sepertinya akan tetap senilai dengan prosesnya yang unik, menarik dan
sulit.
Perkembangan teknologi tempa tersebut mampu menciptakan satu
teknik tempa Tosan Aji ( Tosan = besi, Aji = berharga). Pemilihan akan batu
meteorit yang mengandung unsur titanium sebagai bahan keris, juga merupakan
penemuan nenek moyang kita yang mengagumkan.
Titanium lebih dikenal sebagai bahan terbaik untuk membuat
keris karena sifatnya ringan namun sangat kuat. Kesulitan dalam membuat keris
dari bahan titanium adalah titik leburnya yang mencapai 60 ribu derajat
celcius, jauh dari titik lebur besi, baja atau nikel yang berkisar 10 ribu
derajat celcius. Titanium ternyata memiliki banyak keunggulan dibandingkan jenis
unsur logam lainnya. Unsur titanium itu keras, kuat, ringan, tahan panas, dan
juga tahan karat. Unsur logam titanium baru ditemukan sebagai unsur logam
mandiri pada sekitar tahun 1940, dan logam yang kekerasannya melebihi baja
namun jauh lebih ringan dari besi.
Suku
jawa yang berada di daerah pulau Jawa merupakan suku yang memiliki berbagai
kebudayaan, mulai dari adat istiadat sehari-hari, kesenian, acara ritual, dan
lain-lain.Semua itu membuktikan bahwa suku jawa merupakan suku yang kaya akan
budaya daerah. Dan dari kekayaan budaya yang di miliki suku jawa itulah yang
menbuatnya berberda dengan kebudayaan – kebudayaan lain yang ada di Indonesia.
Manusia dan kebudayaan merupakan suatu kesatuan yang erat
sekali. Kedua-duanya tidak mungkin dipisahkan. Ada manusia ada kebudayaan,
tidak akan ada kebudayaan jika tidak ada pendukungnya, yaitu manusia. Akan
tetapi manusia itu hidupnya tidak berapa lama, ia lalu mati. Maka untuk
melangsungkan kebudayaan, pendukungnya harus lebih dari satu orang, bahkan
harus lebih dari satu turunan. Jadi harus diteruskan kepada anak cucu keturunan
selanjutnya.
Daftar Pustaka.
Ali,
Fachry. 1986. Kekuasaan Jawa. Jakarta: PT Gramedia
Bastomi,
Suwaji. 1992. Seni dan Budaya Jawa. Semarang:
Ikip Semarang Press
Hardjowirogo,
Marbangun. 1983. Manusia Jawa. Jakarta Pusat: Yayasan Idayu
Sedyawati,
Edi dkk. 1993. Sejarah Kebudayaan Jawa.
Jakarta: Manggala Bhakti
Setiyanto,
Aryo Bimo. 2007. Parama Satra Bahasa jawa.
Yogykarta: Panji Pustaka
Link yang terkait:
http://id.wikipedia.org/wiki/Tarian_Indonesia
(diakses pada hari Selasa 4 Juni 2013
pukul 19.20)
pukul 19.30)
pukul 19.40)
http://ceritanyalisa.blogspot.com/2012/05/kebudayaan-jawa.html
(diakses pada hari
Rabu 5 Juni 2013 pukul 14.20)
http://www.hack4rt.net/10-teknologi-kuno-indonesia-yang-canggih.xhtml
(diakses pada hari Kamis 6 Juni 2013 pukul 20.20)
http://ahmedfikreatif.wordpress.com/2009/12/09/andong-dokar-alat-transportasi-tradisional-yang-berbeda/
(diakses pada hari sabtu 6 Juni 2013 pukul 21.20)