Minggu, 09 Maret 2014

Menulusuri 7 Unsur Kebudayaan yang Universal dalam Kebudayaan Jawa



Menulusuri 7 Unsur Kebudayaan yang Universal dalam Kebudayaan Jawa

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari banyak pulau dan memiliki berbagai macam suku bangsa, bahasa, adat istiadat atau yang sering kita sebut kebudayaan. Keanekaragaman budaya yang terdapat di Indonesia merupakan suatu bukti bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya.
Tidak bisa kita pungkiri, bahwa kebudayaan daerah merupakan faktor utama berdirinya kebudayaan yang lebih global, yang biasa kita sebut dengan kebudayaan nasional. Maka atas dasar itulah segala bentuk kebudayaan daerah akan sangat berpengaruh terhadap budaya nasional, begitu pula sebaliknya kebudayaan nasional yang bersumber dari kebudayaan daerah, akan sangat berpengaruh pula terhadap kebudayaan daerah / kebudayaan lokal.
Kebudayaan merupakan suatu kekayaan yang sangat benilai karena selain merupakan ciri khas dari suatu daerah juga mejadi lambang dari kepribadian suatu bangsa atau daerah.
Karena kebudayaan merupakan kekayaan serta ciri khas suatu daerah, maka menjaga, memelihara dan melestarikan budaya merupakan kewajiban dari setiap individu, dengan kata lain kebudayaan merupakan kekayaan yang harus dijaga dan dilestarikan oleh setiap suku bangsa.
Disini, saya mencoba untuk peduli dengan budaya dari mana kami berasal yaitu jawa. Dengan keterbatasan ilmu dan pengetahuan, kami mencoba merangkum berbagai tulisan yang berkaitan dengan budaya Jawa dari berbagai sumber

A.   Sistem religi

Kepercayaan manusia terhadap adanya Sang Maha Pencipta yang muncul karena kesadaran bahwa ada makluk yang lebih dan Maha Kuasa. Sehubungan dengan agama yang dianut, entah agama Islam, Kristen, Protestan, Hindu, dan Budha sikap keagamaan rata-rata manusia Jawa boleh dikata nominal dalam arti, bahwa manusia Jawa tidak saleh sepenuhnya dengan mengecualikan sudah tentu orang-orang yang memang benar-benar beriman.
 Bila para Muslim dan muslimat di jawa Tengah dan jawa Timur biasanya berkelompok di sebuah kampung bernama Kauman yang berada di sekitar masjid. Maka orang-orang yang beragama Protestan dan Katolik berkelompok sebagai jemaah dalam suatu organisasi yang berhubungan dengan gereja mereka masing-masing.
Kenyataan bahwa sebelum agama Islam dan agama Kristen masuk di Indonesia telah sampai lebih dahulu di negri ini yaitu agama Hindu dan agama Budha, maka bisa dimengerti kalau penduduk pulau jawa telah terpengaruhi oleh agama Hindu dan agama Budha sebelum belajar agama Islam, Protestan, dan Katolik. Agama Hindu dan agama Budha yang berasal dari India itu berada di dalam tingkat terbawah dan tertua di dalam tumpukan lapisan agama yang terdapat di jawa Tengah dan Jawa Timur.
 Setalah itu ditingkat di atasnya agama-agama Islam, Katolik, Protestan. Karena datangnya lebih dulu, maka agama Budha dan agama Hndu setidak-tidaknya berkesempatan lebih lama untuk memberi pengaruh alam pikiran dan perasaan orang-orang jawa sehingga sesudah penduduk jawa memeluk ke agama Islam, Katolik, dan Prostestan pada dasarnya masih berpikir sebagai orang Budha dan orang Hindu dengan berbagai upacara yang hingga kini pun masih jelas kelihatanya pada manusia jawa yang menghayati kepercayaan pada Tuhan Yang Maha Esa, penghayataan mereka sedikit bercampur dengan sejumlah upacara keagamaan yang lebih banyak berbau takhayul daripada tata-cara yang bisa didekati secara rasional. Ini bisa dijumpai pada upacara-upacara perkawinan, kelahiran, khitanan dan kematian yang sebagian besar tidak sejalan dan sukar bisa diterima oleh agama-agama yang percaya pada Tuhan Yang Mahaesa. Itulah kenyataannya yang ada hingga saat ini. Sisa-sisa pengaruh agama-agama yang datang dan dihayati lebih dahulu masih banyak berbicara di dalam penghayatan agama di Jawa Tengah dan dan Jawa Timur.

B.   Sistem Kemasyarakatan

Dalam sistem kemasyarakatan, akan dibahas mengenai pelapisan sosial. Dalam sistem kemasyarakatan Jawa, dikenal 4 tingkatan yaitu Priyayi, Ningrat atau Bendara, Santri dan Wong Cilik.
1.      Ningrat
Ningrat atau Bendara adalah kelas tertinggi dalam masyarakat Jawa. Pada tingkatan ini biasanya diisi oleh para anggota keraton, atau kerabat-kerabatnya, baik yang memiliki hubungan darah langsung, maupun yang berkerabat akibat pernikahan. Bendara pun memiliki banyak tingkatan juga di dalamnya, mulai dari yang tertinggi, sampai yang terendah. Hal ini dapat dengan mudah dilihat dari gelar yang ada di depan nama seorang bangsawan tersebut.

2.      Priyayi
Priyayi ini sendiri konon berasal dari dua kata bahas Jawa, yaitu “para” dan “yayi” atau yang berarti para kaum terdidik. Dalam istilah kebudayaan Jawa, istilah priyayi ini mengacu kepada suatu kelas sosial tertinggi di kalangan masyarakat biasa setelah Bendara atau ningrat karena memiliki status sosial yang cukup tinggi di masyarakat. Biasanya kaum priyayi ini terdiri dari para pegawai negeri sipil dan para kaum terpelajar yang memiliki tingkatan pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang-orang disekitarnya.
3.      Santri
Yang ketiga adalah golongan santri. Golongan ini tidak hanya merujuk kepada seluruh masyarakat suku Jawa yang beragama muslim, tetapi, lebih mengacu kepada para muslim yang taat dengan beragama, yaitu para santri yang belajar di pondok-pondok yang memang banyak tersebar di seluruh daerah Jawa.
4.      wong cilik
wong cilik atau golongan masyarakat biasa yang memiliki kasta terendah dalam pelapisan sosial. Biasanya golongan masyarakat ini hidup di desa-desa dan bekerja sebagai petani atau buruh. Golongan wong cilik pun dibagi lagi menjadi beberapa golongan kecil lain yaitu:
a. Wong Baku: golongan ini adalah golongan tertinggi dalam golongan wong cilik,
     biasanya mereka adalah orang-orang yang pertama mendiami suatu desa, dan   
     memiliki sawah, rumah, dan juga pekarangan.
b.      Kuli Gandok atau Lindung : masuk di dalam golongan ini adalah para lelaki yang telah menikah, namun tidak memiliki tempat tinggal sendiri, sehingga ikut menetap di tempat tinggal mertua.
c.       Joko, Sinoman, atau Bujangan : di dalam golongan ini adalah semua laki-laki yang belum menikah dan masih tinggal bersama orang tua, atau tinggal bersama orang lain. Namun, mereka masih dapat memiliki tanah pertanian dengan cara pembelian atau tanah warisan.

Selain pelapisan sosial masyarakat, dalam sistem kemasyarakatan ini kami akan membahas tentang bentuk desa sebagai kesatuan masyarakat terkecil setelah rt dan rw yang umum ditemui di masyarakat Jawa.
Desa-desa di Jawa umumnya dibagi-bagi menjadi bagian-bagian kecil yang disebut dengan dukuh, dan setiap dukuh dipimpin oleh kepala dukuh. Di dalam melakukan tugasnya sehari-hari, para pemimpin desa ini dibantu oleh para pembantu-pembantunya yang disebut dengan nama Pamong Desa. Masing-masing pamong desa memiliki tugas dan perananya masing-masing. Ada yang bertugas menjaga dan memelihara keamanan dan ketertiban desa, sampai dengan mengurus masalah perairan bagi lahan pertanian warga.

C.   Sistem Pengetahuan

Salah satu bentuk sistem pengetahuan yang ada, berkembang, dan masih ada hingga saat ini adalah bentuk penanggalan atau kalender. Bentuk kalender Jawa menurut kelompok para ahli, adalah salah satu bentuk pengetahuan yang maju dan unik yang berhasil diciptakan oleh para masyarakat Jawa kuno, karena penciptaanya yang terpengaruh unsur budaya islam, Hindu-Budha, Jawa Kuno, dan sedikit adanya pengaruh budaya barat. Namun tetap dipertahankan penggunaanya hingga saat ini. Walaupun penggunaanya yang cukup rumit, tetapi kalender Jawa lebih lengkap dalam menggambarkan penanggalan, karena di dalamnya berpadu dua sistem penanggalan, baik penanggalan berdasarkan sistem matahari (sonar/syamsiah) dan juga penanggalan berdasarkan perputaran bulan (lunar/komariah).
Pada sistem kalender Jawa, terdapat dua siklus hari yaitu siklus 7 hari seperti yang kita kenal saat ini, dan sistem pancawara yang mengenal 5 hari pasaran. Sejarah penggunaan kalender Jawa baru ini, dimulai pada tahun 1625, dimana pada saat itu, sultan agung, raja kerajaan mataram, yang sedang berusaha menyebarkan agama Islam di pulau Jawa, mengeluarkan dekrit agar wilayah kekuasaanya menggunakan sistem kalender Hijriah, namun angka tahun Hijriah tidak digunakan demi asas kesinambungan. Sehingga pada saat itu adalah tahun 1025 hijriah, namun tetap menggunakan tahun saka, yaitu tahun 1547.

D.    Bahasa

Banyak orang yang beranggapan kalau bahasa Jawa hanya sebagai bahasa ibu dan bahasa pergaulan sehari-hari masyarakat suku Jawa. Tetapi ternyata di dalamnya pun dikenal berbagai macam tingkatan dan undhak-undhuk basa. Sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu asing, mengingat beberapa bahasa lain yang berada dalam rumpun austronesia pun dikenal undhak-undhuk dalam berbahasa.


1.      Bahasa lisan.
Bahasa Jawa yang satu asal dengan bahasa di sekitar pulau Jawa, seperti Bahasa Sunda, Bahasa Melayu, Bahasa Madura, Bahasa Philipina, dan sebagainya. Menurut penelitian para ahli bahasa, terutama yang dilakukan oleh Pater J.W. Smith sarjana asal Autria, bahasa-bahasa di Indonesia telah berhasil Ia petakan.

Menurut Pater J.W. Smith Bahasa-bahasa di Indonesia dibedakan menurut  dua mata angin. Bahasa-bahasa di sebelah barat dan di sebelah utara.

a.       Bahasa-bahasa di sebelah barat dan di sebelah utara meliputi:
1)      Di Jawa: Bahasa Jawa, Bahasa Sunda dan Bahasa Madura.
2)      Di Pulau Sumatra dan pulau-pulau di sekitarnya: Bahasa Melayu, Bahasa Batak, Bahasa Aceh, Bahasa Lampung, Bahasa Nias, dan lain-lain.
3)      Di Kalimantan: Bahasa Dayak.
4)     Di Sulawesi: Bahasa Makasar, Bahasa Bugis, Bahasa Tombulu, Bahasa
    Tonse, Bahasa Tondano, dan lain-lain.
b.      Bahasa-bahasa di sebelah timur.
Adapun bahasa-bahasa di sebelah timur adalah bahasa-bahasa yang terdapat di pulau-pulau kecil di sebelah timur Pulau Jawa hingga pulau-pulau di sekitar Kupang, dan sebagainya. Bahasa-bahasa tersebut adalah:
1)      Bahasa Bali
2)      Bahasa Sasak
3)      Bahasa Sumba
4)      Bahasa Bima
5)      Bahasa Sumbawa
6)      Bahasa Rotai
7)      Bahasa timur, dan lain-lain

Bahasa-bahasa di Indonesia dan wilayah sekitarnya pada awalnya merupakan satu asal. Jika kemudian terpecah-pecah menjadi berbagai macam-macam bahasa, terutama disebabkan oleh karena Indonesia terdiri dari berbagai banyak pulau. Keadaan geografis tersebut menyebabkan berkurangnya pengaruh bahasa satu dengan yang lain. Hal ini juga menyebabkan bergeser dan berubahnya sebuah kata, pengertian dan maksudnya. Bergeser  dan berubahnya ini juga menyebabkan perbedaan cara menyusun kata dan kalimat, sehingga muncul bermacam-macam cengkok bahasa(dialeg). Sehingga sama-sama Bahasa Jawa tempat tempat satu dengan yang lain cengkoknya tidak sama baik itu hal baiknya, kasar atau halusnya. Menurut beberapa pendapat sampai saat ini, cengkok bahasa jawa yang dianggap baik dan halus adalah:
a.       Cengkok Surakarta.
b.      Cengkok Ngayogyakarta.
Pendapat yang demikian itu sudah semestinya, karena di situ tempat orang-orang yang mengolah keindahan bahasa sehingga pantaslah jika kedua tempat itu bahasanya masih dianggap murni. Tentu saja semua bahasa harus benar cara menyusun kata, cengkok, dan sususanan kalimatnya.
Dengan masuknya agama Hindu  pada abad ke 2 di tanah Jawa ini, membawa pengaruh dengan lahirkan bahasa baru yang disebut Bahasa Jawa Kuna. Bahasa Jawa Kuna ini lahir, karena adanya percampuran bahasa pribumi dengan bahasa Sansekerta yang dibawa oleh para penganut agama Hindu. Kata-kata Sansekerta ini banyak sekali dan tidak lagi dirasakan sebagai kara yang berasal dari bahasa asing. Kata-kata tersebut misalnya adalah: nagara, iswara, budaya, sastra, bedaya, basa,putra, para, swara, dan sebagainya.
Memasuki abad ke-15 agama Hindu mulai terdesak dengan masuknya agama Islam ke tanah jawa. Dan selanjutnya banyak orang yang memeluk agama baru tersebut. Seperti bahasa Sansekerta yang dibawa oleh agama Hindu, masuknya agama Islam ke tanah jawa juga membawa pengaruh perubahan dalam bahasa. Kebanyakan bahasa Arab yang dibawa oleh agama Islam erat kaitannya dengan unsur kegiatan keagamaan. Kata-kata tersebut misalnya: pikir, makna, magrib, subuh,sipat, ajal, kalal, salam, urmat, kiyamat, berkah, jaman, dan sebagainya.
Dengan masuknya Portugis di Indonesia pada ke-16 mau tidak mau membawa pengaruh dalam bahasa jawa. Kata-kata serapat yang terpengaruhi oleh bahasa Portugis adalah: meja, greja, tembako, gendera, bal, minggu, dan sebagainya.
Masuknya pedagang-pedang dari Cina juga membuat kata serapan baru lagi dalam bahasa jawa. Kata-kata serapan itu antara lain adalah: tahu, cawan, saoto, kuwih, mangkok, conto, dacin, teh, loteng, dan sebagainya. Biasanya kata-kata serapan dari bahasa Cina yang dibawa oleh pedagang Cina berhubungan dengan perdagangan. Karena lahirnya kata-kata serapan ini muncul melaui komunikasi antara pedagang
Bahasa melayu yang terserap oleh bahasa jawa tidak terlaulu banyak tetapi bahasa jawa yang terserap oleh bahasa melayu lumayan banyak. Kata-kata yang termasuk dalam bahasa jawa adalah: tempo, bung, kerja, pengaruh, gencatan, senjata, naskah, istimewa dan sebagainya.
Pada masa penjajahan Belanda dan Inggris tentu saja banyak kata serapan yang diserap oleh bahasa jawa: buku, bangku, lampu, potelot, bensin, mesin, sekolah, pen, grip, montor,karcis, onder, residen, gubernur,dokter, dan sebagainya,
Ketika seseorang berbicara selain harua memperhatikan kaidah-kaidah tata bahasa, juga masih harus memperhatikan siapa yang diajak berbicara. Berbicara kepada orang tua maupun kepada anak kecil atau yang seumuran. Kata-kata atau bahasa yang ditujukan pada orang lain inilah yang disebut Unggah-unghing bahasa.Unggah-unghing bahasa Jawa antara lain adalah:
a.       Basa ngoko: 
1)      Ngoko lugu
2)      Ngoko Andhap
b.      Basa madya:
1)      Madya ngoko
2)      Madya krama
3)      Madyatara
c.       Basa karma:
1)      mudha krama
2)      Kramantara
3)      Wredha krama
4)      krama inggil
5)      Krama desa

d.      Basa kedhaton/ basa bawongan
Bahasa kedhaton/basa bawongan adalah bahasa yang digunakan para abdi dalem Kerathon

Selain undhah-undhuh atau tingkatan bahasa, dikenal juga dialek yang berbeda-beda diantara orang-orang Jawa itu sendiri. Dalam hal ini, perbedaan dialek, dibagi menjadi 3 daerah, yaitu kelompok barat, tengah dan timur.


a.       Kelompok barat terdiri dari:
1)      Dialek Banten
2)      Dialek Cirebon
3)      Dialek Tegal
4)      Dialek Banyumas
5)      Dialek Bumiayu
b.      Kelompok tengah terdiri dari:
1)      Dialek Pekalongan
2)      Dialek Kedu
3)      Dialek Bagelen
4)      Dialek Semarang
5)      Dialek Pantai Utara Timur (jepara,Demak, Rembang, Kudus, Pati)
6)      Dialek Blora
7)      Dialek Surakarta
8)      Dialek Yogyakarta
9)      Dialek Madiun.
c.       Kelompok dialek timur terdiri dari:
1)      Pantura Timur (Tuban, dan Bojonegoro)
2)      Dialek Surabaya
3)      Dialek Malang
4)      Dialek Jombang
5)      Dialek Tengger
6)      Dialek Banyuwangi

2.      Bahasa tulis
Selain memiliki bahasa lisan tersendiri, masyarakat suku Jawa pun memiliki bahasa lisan tersendiri yang pada umunya mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa lisan ini biasa disebut dengan huruf jawa/aksara jawa. Keberadaan huruf Jawa (juga memiliki kemiripan dengan huruf  Sunda, Bali, dan sasak) yang dikenal sekarang ini, tentu tidak lepas dari sejarah yang mengiringinya.
Salah satu cerita tentang sejarah huruf  Jawa ini adalah cerita tentang Ajisaka yang pada awalnya mencipatakan aksara Jawa yang dikenal dengan istilah Dhentawyanjana atau carakan. Aji saka menciptakan aksara Jawa ini pada saat dia sedang berkelana dengan pengawalnya yang setia yaitu Dora, dan sampai di pegunungan kendeng. Saat itu Dora bertemu dengan Sembada, sahabatnya. Setelah itu, terjadilah kesalah pahaman yang mengakibatkan Dora dan Sembada berkelahi karena masing-masing dari mereka ingin membuktikan siapa dari mereka yang lebih setia kepada Aji Saka. Dan untuk mengenang jasa kedua pengawalnya tersebut, Aji Saka menciptakan sebuah syair yang kemudian hari menjadi asal mula dari huruf Jawa sekarang ini.
Huruf Jawa atau lebih dikenal dengan huruf  honocoroko ini terdiri dari 20 huruf, dimana setiap huruf nya memiliki makna tersendiri, diantaranya:
Ha-na-ca-ra-ka.jpg
a.       Ha – Hana Hurip Wening Suci – adanya hidup adalah kehendak dari yang
   Maha Suci.
b.      Na -  Nur Gaib, Candra Gaib, Warsitaning Gaib – pengharapan manusia
   hanya selalu ke sinar Ilahi.
c.       Ca – Cipta Wening, Cipta Mandulu, Cipta Dadi – arah dan tujuan pada
   yang Maha Tunggal.
d.      Ra – Rasaingsun Handulusih – rasa cinta sejati muncul dari rasa kasih
   nurani.
e.       Ka – Kersaningsun Memayu Hayuning Bawana – hasrat diarahkan untuk
   kesejahtraan alam.
da-ta-sa-wa-la.jpg
a.       Da – Dumadining Dzat kang tanpa winangenan – menerima hidup apa
   adanya.
b.      Ta – Tatas, Titis, Tutus, Titi lan Wibawa – mendasar, totalitas, satu
         visi, ketelitian dalam memandang hidup.
c.       Sa – Sifat Ingsun Handulu Sifatullah – membentuk kasih sayang seperti  
   kasih Tuhan.
d.      Wa– Wujud Hana Tan Kena Kinira – ilmu manusia hanya terbatas,
         namun implikasinya bisa tanpa batas.
e.       La – Lir Handaya Paseban Jati – mengalirkan hidup sebatas pada
        tuntunan Ilahi.
Pa-da-ja-ya-nya.jpg
a.       Pa – Papan Kang Tanpa Kiblat – Hakikat Allah yang ada di segala arah.
b.      Da – Dhuwur Wekasane Endek Wiwitane – Untuk bisa diaatas tentu
   dimulai dari dasar.
c.       Ja – Jumbuhing Kawula Lan Gusti – selalu berusaha menyatu,
  memahami kehendaknya.
d.      Ya – Yakin Marang Samubarang Tumindak Kang Dumadi – yakin atas
         titah atau kodrat Ilahi.
e.       Nya– Nyata Tanpa Mata, Ngerti Tanpa Diuruki – memahami kodrat
    kehidupan
Ma-ga-ba-tha-nga.jpg
a.       Ma – Madep, Mantep, Manembah, Mring Ilahi – yakin atau mantap
    dalam menyembah Ilahi.
b.      Ga – Guru Sejati Sing Mruki – belajar dari guru nurani.
c.       Ba -  Bayu Sejati Kang Andalani -  menyelaraskan diri pada gerak
   alam.
d.      Tha – Tukul Saka Niat – sesuatu harus tumbuh dan dimulai dari niatan.
e.       Nga – Ngracut Busananing Manungso – melepaskan egoisme pribadi.

E.    Seni Kesenian

 Setelah memenuhi kebutuhan fisik manusia, manusia juga memerlukan sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan psikis mereka sehingga lahirlah kesenian yang dapat memuaskan. Sejak zaman prasejarah orang jawa telah mengenal seni. Pada mulanya orang jawa mulai membuat seni seperti cincin, kalung, gelang, patung-patung kecil dan lain-lain. Awal mulanya hasil karya yang dibuat oleh orang jawa dipakai untuk peralatan upacara persembahan kepada yang gaib.
Selain dipakai untuk peralatan upacara persembahan kepada yang gaib orang jawa membuat seni bertujuan untuk mengungkapkan rasa seni, rasa takut, rasa hormat, rasa senang, rasa haru dan sebagainya. Kronologinya lahirnya seni ditengah-tengah orang jawa sebagai berikut; dahulu pada waktu ada acara ritual penebangan pohon peserta upacara yang bekerjasama melakukan penebangan pohon besar itu. Dalam pelaksanaan upacara penebangan pohon tersebut para peserta menghias diri dengan mengoleskan warna-warna alam pada badan dan lengan mereka. Tidak jarang peserta dalam upacara ritual penebangan pohon tersebut mengenakan bulu-bulu dan daun-daun untuk menghias kepala serta tubuh mereka.
Hasil seni tampak lebih jelas dan lebih terasa nilai estetikanya ketika orang Jawa menciptakan seni yang berhubungan dengan keperluan pemujaan kepada nenek moyang atau untuk keperluan religuis lainnya. Menurut kepercayaan orang Jawa roh nenek moyang akan marah apabila jika anak cucu mereka lupa melakukan menjalankan ritual mereka. Maka dari itu anak cucu yang masih hidup secara berkala mengadakan upacara pemujaan kepada roh nenek moyang untuk meminta “berkah” dan “restu”, misalnya upacara “nyadran”, sedekah laut, dan lain-lain.
Macam-macam seni kebudayaan Jawa antara lain adalah:
1.      Seni Bangunan
Kesenian jawa mengalami perkembangan pesat setelah mendapat pengaruh kesenian Hindu dan Budha masuk ke tanah jawa. Setelah mengenal tulisan dan mengenal dewa-dewa menurut agama Hindu, wawasan orang jawa akan seni bertambah luas terhadap kebudayaan pada umumnya dan kesenian pada khususnya. Orang Jawa mengenal seni Hindu melalui Cilpasastra, Cilpasastra adalah buku petunjuk tentang seni bangunan. Sejak itu orang Jawa mulai mendirikan bangunan seni berupa bangunan candi dan stupa sebagai bangunan suci tempat beribadah agama Hindu dan agama Budha.

Bentuk bangunan candi merupakan perkembangan bentuk seni”Cungkup” dengan mengenalkan bentuk dasar “meru” yaitu penggayaan bentuk gunung Mahameru atau gunung Himalaya sebagai tempat bersemayam para dewa. Bentuk meru pada candi berpengaruh pada bentuk, atap rumah yang disebut rumah “joglo". Rumah joglo adalah rumah yang beratap meru. Atap meru sering dibuat bersusun yang disebut “tumpang” dengan “soko guru”di dalamnya. Soko guru adalah empat buah tiang pokok di tengah-tengah banguan rumah jawa.



2.      Seni Pahat
Masuknya Agama Budha juga meningkatkan kemampuan seni orang jawa. Peningkatan seni orang jawa disini dapat dilihat berupa peningkatan seni kemampuan orang jawa dapat berupa kemampuan seni berupa kemampuan peningkatan seni pahat patung ukir di tanah jawa. Dalam agama Budha seni pahat patung digunakan sebagai media untuk tafakur atau samadi dalam hubungannya dengan pemujaan terhadap dewa-dewa. Seni pahat pada masa ini mempengaruhi seni ukir kayu, baik seni ukir bebas maupun seni ukir terapan. Masuknya orang-orang Cina  yang terdiri dari tukang kayu pada masa perkembangan agama Budha di tanah Jawa juga mempengaruhi perkembangan seni ukir Jawa menjadi pesat. Mataram, Pejajaran, dan Majapahit merupakan pusat-pusat kerajaan yang mengembangkan seni ukir. Kota Jepara dan sekitarnya merupakan pusat perkembangan seni ukir yang lestari hingga saat ini. Hal ini disebabkan karena:
a.    Seni ukir Jepara banyak digunaka pada perabot rumah tangga,
b.   Daerah Jepara dan sekitarnya banyak mengahasilkan kayu jati sebagai bahan bakunya.
c.    Gaya seni ukir Jepara luwes dan cantik
                                  
3.      Seni Kria Batik
Berbeda dengan seni ukir, seni kria batik ini juga pernah mengalami puncak kejayaannya pada zaman berdirinya kerajaan-keraajan di jawa. Tempat-tempat yang masyarakat memproduksi kain batik sandang melahirkan corak batik tersendiri seperti batik corak Banyumasan , batik corak Wonogiri, batik corak Mataram, batik corak Lasem dan sebagainya. Di Jawa Timur juga muncul beberapa corak batik seperti batik corak Ponorogo, Tulungagung dan lain-lainnya.
Produksi kain batik sandang daerah Jawa Tengah sampai sekarang masih bertahan, sehingga batik Jawa Tengah dijadikan lambing jati diri Jawa Tengah. Nilai kain batik pada zaman modern ini justru terangakat menjadi busana kebesaran pada tingkat nasional. Dalam upacara resmi, upacara perkawinan dan dalam pesta-pesta orang lebih condong mengenakan busana batik
Dahulu batik motif parang rusak dan garis miring hanya boleh dipakai oleh “trah” (keturunan) Mangku Negara dan keluarga. Sampai pada tingkatan cucu masih diperkenalkan memakai motif parang rusak tetapi motif parang yang berukuran kecil. Untuk para istana dan para istana dan para istiri raja motif yang disediakan adalah ceplok dan berlatar belakang hitam.
4.      Seni Keris
Seni keris adalah salah satu senjata tikam tradisional yang berasal dari jawa. Isitilah keris telah dijumpai pada kira-kira abad VIII. Prasasti Karangtengah berangka tahun 748 Saka atau 824 Masehi telah menyebut-nyebut beberapa peralatan seperti lukai, pulukan, wadug, paluk, kres. Demikian pula prasasti Poh yang berangka tahun 829 Saka atau 907 Masehi menyebutkan beberapa peralatan sesaji untuk menetapakan “Poh”sebagai tanah “Pardikan”(bebas pajak). Peralatan sesaji itu diantara lain berupa kress tewek punukan. Kres maksudnya adalah keris(Harsnukksma, 1988: 19).
Jika ditelusuri lebih jauh, senjata keris mungkin sekali merupakan perkembangan senjata yang dibuat oleh orang jawa pada zaman prasejarah. Dahulu orang jawa menggunakan alat yang dibuat dari duri ikan pari untuk menangkap ikan. Pada zaman perunggu orang jawa telah pandai membuat alat dan senjata dari perunggu seperti kapak corong yang disebut candrasa serta pisau belati untuk keperluan hidup sehari-hari. Prasasti Dakuwu yang di temukan di daerah Grabag, Magelang yang dibuat kira-kira pada tahun 500 yang di atas tulisan terdapat gambar-gambar antara lain trisula, kapak, kudi, dan belati yang bentuknya menyerupai keris. Selain di daerah Grabag, Magelang, ternyata di Candi Borobudur(tahun 820) telah ditemukan gambar relief yang menunjukan bahwa pada waktu itu telah dibuat keris yang berbentuk logam, dan ornamennya cukup bagus.
Walaupun sebagai senjata tikam, namun keris tidak selalu digunakan untuk membunuh. Keris dimanfaatkan sebagai seni yang mengandung perlambang. Bagi orang-orang percaya adanya kekuataan gaib, keris dipercaya menambah keberanian seseorang. Keris dapat mengahalau penayakit atau hama tanaman, keris juga dapat mendatangkan rejeki dan pangkat, keris juga dipercaya menyingkirkan roh halus.
Untuk menggagungkannya, keris juga memiliki nama dan sebutan masing-Masing Kyai, Kyai Ageng, Kanjeng Kyai Ageng, contohnya Kyai Setan Kober, Kyai Kala Nadha, Kanjeng Kyai Ageng Sengklet dan lain-lain. Orang yang ahli membuat keris disebut “Empu”. ”Empu” yang terkenal pada zaman kerajaan Tumampel adalah Empu Gandring, pada zaman kerajaan Demak adalah Empu Supa. Empu Kriyasana dari desa Ngetos suatu daerah dikaki gunung Wilis, tersohor setelah perang Diponegoro.
Keris adalah hasil budaya jawa asli. Keris tidak berasal dari negri lain, bukan dari India. Karena Candi-candi di India tidak memuat gambar keris, dan orang India tidak pernah memakai keris.
Ditinjau dari cara pembuatannya keris dapat dibagi menjadi 3 golongan, yaitu:
a.       Keris “ageman”, yang dipentingkan bentuk lahir.
b.      Keris “tayuhan”, yang dipentingkan adalah tuah dan gaibnya.
c.       Keris “pusaka”, yang dipentingkan bentuk dan tuahnya.
5.      Seni Sasta.
Perkembangan seni sastra menjadi sangat pesat perkembangaannya sejak dikenalnya tulisan. Orang jawa tidak hanya mengenal sastra lisan yang berbentuk mantra-mantra, melainkan juga sastra tulis. Hasil seni sastra yang dianggap tinggi mutunya adalah serat Pustaka Raja Purwa yang dibuat kira-kira pada tahun 839 oleh Prabu Jayabaya raja Kediri. Di dalam serat Pustaka Raja Purwa terdapat serat Mahadarama. Kesustraan pada zaman Kediri berisi riwayat hidup keluarga besar raja-raja Kediri.
Sastra adalah bahasa ekspresi atau bahasa ungkap, yang dimakasud dengan eksepresi atau bahasa ungkap adalah bentuk bahasa tertentu yang berfungsi sebagaia alat untuk mengekspresikan pribadi seseorang masyarakat pemakainya (Soetomo, 1989:4)
6.      Seni musik dan seni tari
Masuknya kebudayaan Hindu ditanah jawa membuat seni musik dan seni tari berkembang pesat. Dahulu sebelum masuknya kebudayaan Hindu ditanah jawa orang jawa hanya mengenal isntrumen seni gendang saja., namun sejak masuknya agama Hindu akhirnya orang jawa mengenal instrument “gamelan” beserta lagu-lagunya. Gamelan jawa dibuat dari perunggu jawa.
Orang jawa menyebut tangga nada gamelan disebut “raras”. Raras artinya adalah hati atau rasa. Orang jawa sering mengucapkan kata “raras” dengan “laras”. Ada dua macam “raras” gamelan, yaitu raras “sledro” dan raras “pelog”. Perbedaan antara raras” gamelan, antara raras “sledro” dan raras “pelog” terletak pada jumlah nada dalam satu ”gembyang” (oktaf) dan “sruti” (interval). Tiap satu gembyang  raras. Terdiri dari lima nada, yaitu nada 1-2-3-4-5-6 dengan sruti 240-240-240-240. Tiap satu gembyang raras pelog terdiri dari tujuh nada, yaitu nada 1-2-3-4-5-6-7 dengan sruti 150-150-225-150-150-150-225
Gamelan diciptakan oleh Sang Hyang Guru ketika “Ngejawantah” (berwujud manusi) dan menjadi raja di Medangkamolan, letaknya di puncak gunung Mahendra sekarang gunung (Lawu). Gamelan dibuat pada tahun 167 dengan “Sengkalan” atau candra sengkalam (perhitungan angka tahun jawa berdasarkan peredaran bulan)
Dengan masuknya agama Hindu dan Buddha di Indonesia membuat upacara keagamaan dalam berbagai ritual suci dan seni berubah. Hal ini terlihat dengan ritual agama Hindu di Indonesia seperti Ramayana, Mahabharata, dan juga Cerita Panji menjadi ilham untuk ditampilkan dalam tari-drama yang disebut "Sendratari" menyerupai "ballet" dalam tradisi barat. Suatu metode tari yang rumit dan sangat bergaya diciptakan dan tetap lestari hingga kini, terutama di pulau Jawa. Sendratari Jawa Ramayana dipentaskan secara rutin di Candi Prambanan, Yogyakarta. Tarian Jawa Wayang orang mengambil cuplikan dari episode Ramayana atau Mahabharata. Akan tetapi tarian ini sangat berbeda dengan versi India. Meskipun sikap tubuh dan tangan tetap dianggap penting, tarian Indonesia tidak menaruh perhatian penting terhadap mudra/ritual keagaaman seperti sebagaimana tarian India: bahkan lebih menampilkan bentuk lokal.
Tari ritual suci Jawa seperti tari Bedhaya dipercaya berasal dari masa kerajaan Majapahit pada abad ke-14 bahkan lebih awal, tari ini berasal dari tari ritual yang dilakukan oleh gadis perawan untuk memuja Dewa-dewa Hindu seperti Dewa Shiwa, Dewa Brahma, dan  Dewa Wishnu.
Menurut relief dari candi di Jawa Timur dari abad ke-14 menampilkan mahkota dan hiasan kepala yang terinspirasi dari ritual suci agama Hindu. Hal ini menampilkan kesinambungan tradisi yang luar biasa yang tak terputus selama sedikitnya 600 tahun. Beberapa tari sakral dan suci hanya boleh dipergelarkan pada upacara keagamaan tertentu. Masing-masing tari Jawa memiliki kegunaan tersendiri, mulai dari tari suci untuk ritual keagamaan yang hanya boleh ditarikan di dalam Tempat Pemujaan, tari yang menceritakan kisah dan legenda popular. Salah satu tari yang berasal dari kebudayaan Jawa adalah tari topeng juga sangat populer di Jawa dan Bali, umumnya mengambil kisah cerita Panji yang dapat dirunut berasal dari sejarah Kerajaan Kediri abad ke-12. Jenis tari topeng yang terkenal adalah tari topeng Cirebon dan topeng Bali.
Hal yang membedakan tari keraton Jawa dengan tarian Bali adalah: tarian Jawa lebih menekankan kepada keanggunan dan gerakannya yang lambat dan lemah gemulai, sedangkan tarian Bali lebih dinamis dan ekspresif.
Setelah masuknya Agama Islam ke kepulauan Nusantara. Tidak semat-mata membuat tarian yang dipengaruhi oleh agama Hindu dan agama Budha hilang. Seniman dan penari masih menggunakan gaya dari era sebelumnya, hanya menganti kisah cerita yang sesuai dengan penafsiran Islam dan busana yang lebih tertutup sesuai ajaran Islam. Pergantian ini sangat jelas dalam Tari Persembahan dari Jawa. Penari masih dihiasi perhiasan emas yang rumit dan ramai seperti pada masa Hindu-Buddha, tetapi pakaiannya lebih tertutup sesuai etika kesopanan berbusana dalam ajaran Islam.
Dalam tarian Jawa yang bernuansa Isalami menggunakan alat musik khas Arab dan Persia, seperti rebana, tambur, dan gendang yang menjadi alat musik utama dalam tarian bernuansa Islam, begitu pula senandung nyanyian pengiring tarian yang mengutip doa-doa Islami.
Memang tidak banyak peninggalan taraian Jawa yang bernuansa Isalami. Salah satu  taraian Jawa yang bernuansa Isalami  adalah tari Kundaran yang berasal dari Jawa Timur. Tarian ini menggambarkan kegembiraan para gadis setelah selesai membaca Al-Quran/Hatam Al-Quran. Tarian daerah Jawa Timur ini sangat terpengaruh dengan gerakan daerah Bali dan bernuansakan Islam
Tarian di Indonesia mencerminkan sejarah panjang Indonesia. Beberapa keluarga bangsawan yang berasal dari berbagai istana dan keraton yang berada di Pulau Jawa hingga saat kini masih bertahan di berbagai bagian Indonesia menjadi benteng pelindung dan pelestari budaya istana. Perbedaan paling jelas antara tarian istana dengan tarian rakyat tampak dalam tradisi tari Jawa. Strata masyarakat Jawa yang berlapis-lapis dan bertingkat tercermin dalam budayanya. Jika golongan bangsawan kelas atas lebih memperhatikan pada kehalusan, unsur spiritual, keluhuran, dan keadiluhungan. Akan tetapi masyarakat kebanyakan lebih memperhatikan unsur hiburan dan sosial dari tarian. Sebagai akibatnya tarian istana lebih ketat dan memiliki seperangkat aturan dan disiplin yang dipertahankan dari generasi ke generasi, sementara tari rakyat lebih bebas, dan terbuka atas berbagai pengaruh.
Perlindungan kerajaan atas seni dan budaya istana umumnya digalakkan oleh pranata kerajaan sebagai penjaga dan pelindung tradisi mereka. Misalnya para Sultan dan Sunan dari Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta terkenal sebagai pencipta berbagai tarian keraton lengkap dengan komposisi gamelan pengiring tarian tersebut.
7.      Wayang
Wayang dalam bentuk yang asli merupakan kreasi budaya orang Jawa yang berisi berbagai aspek kebudayaan Jawa. Wayang sudah ada jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu ke Indonesia. Pada jaman Neolitikum pertunjukan wayang awalnya terdiri atas upacara-upacara keagamaan yang berlangsung di malam hari untuk persembahan kepada “Hyang”. Pertunjukan wayang ceritanya menggambarkan jiwa kepahlawanan para nenek moyang yang ada dalam mitologi.
Pada masa sekarang pertunjukan wayang sudah sangat berbeda jika dibandingkan dengan pertunjukan yang sama dimasa lampau. Dahulu wayang digambarkan sesuai dengan wajah nenek moyang. Orang Jawa gemar sekali menonton wayang karena ceritanya berisi pelajaran-pelajaran hidup yang sangat berguna yang dapat dijadikan pedoman dan tuntunan di dalam menjalani hidup di masyarakat. Pementasan wayang selalu diiringi dengan musik gamelan. Berdasarkan cerita dan penyajian kira-kira ada 40 jenis wayang yang ada di Indonesia, diantaranya wayang beber, wayang klithik, wayang kulit, wayang krucil dan wayang thengul atau wayang golek. Beberapa peninggalan wayang yang hingga kini masih sering ditampilkan antara lain adalah wayang kulit dan wayang uwong atau wayang orang..
a.       Wayang Kulit
Wayang kulit biasanya dibuat dari kulit kerbau atau kulit lembu. Wayang kulit kini telah menjadi warisan budaya nasional dan sudah sangat terkenal di dunia sehingga banyak orang asing yang datang dan mempelajari seni perwayangan. Pertunjukan wayang kulit sampai saat ini tetap digemari sebagai tontonan yang menarik, biasanya disajikan semalam suntuk.
Wayang kulit adalah seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Jawa. Wayang berasal dari kata 'Ma Hyang' yang artinya menuju kepada roh spiritual, dewa, atau Tuhan Yang Maha Esa. Ada juga yang mengartikan wayang adalah istilah bahasa Jawa yang bermakna 'bayangan', hal ini disebabkan karena penonton juga bisa menonton wayang dari belakang kelir atau hanya bayangannya saja. Wayang kulit dimainkan oleh seorang dalang yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang, dengan diiringi oleh musik gamelan yang dimainkan sekelompok nayaga dan tembang yang dinyanyikan oleh para pesinden. Dalang memainkan wayang kulit di balik kelir, yaitu layar yang terbuat dari kain putih, sementara di belakangnya disorotkan lampu listrik atau lampu minyak (blencong), sehingga para penonton yang berada di sisi lain dari layar dapat melihat bayangan wayang yang jatuh ke kelir. Untuk dapat memahami cerita wayang (lakon), penonton harus memiliki pengetahuan akan tokoh-tokoh wayang yang bayangannya tampil di layar.
Secara umum wayang mengambil cerita dari naskah Mahabharata dan Ramayana, tetapi tak dibatasi hanya dengan pakem (standard) tersebut, ki dalang bisa juga memainkan lakon carangan (gubahan). Beberapa cerita diambil dari cerita Panji. Pertunjukan wayang kulit kini telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan berharga ( Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity ). Wayang kulit lebih populer di Jawa bagian tengah dan timur, sedangkan wayang golek lebih sering dimainkan di Jawa Barat.
  Wayang kulit dibuat dari bahan kulit kerbau yang sudah diproses menjadi kulit lembaran, perbuah wayang membutuhkan sekitar ukuran 50 x 30 cm kulit lembaran yang kemudian dipahat dengan peralatan yang digunakan adalah besi berujung runcing berbahan dari baja yang berkualitas baik. Besi baja ini dibuat terlebih dahulu dalam berbagai bentuk dan ukuran, ada yang runcing, pipih, kecil, besar dan bentuk lainnya yang masing-masing mempunyai fungsinya berbeda-beda.
Namun pada dasarnya, untuk menata atau membuat berbagai bentuk lubang ukiran yang sengaja dibuat hingga berlubang. Selanjutnya dilakukan pemasangan bagian-bagian tubuh seperti tangan, pada tangan ada dua sambungan, lengan bagian atas dan siku, cara menyambungnya dengan sekrup kecil yang terbuat dari tanduk kerbau atau sapi. Tangkai yang fungsinya untuk menggerak bagian lengan yang berwarna kehitaman juga terbuat berasal dari bahan tanduk kerbau dan warna keemasannya umumnya dengan menggunakan prada yaitu kertas warna emas yang ditempel atau bisa juga dengan dibron, dicat dengan bubuk yang dicairkan. Wayang yang menggunakan prada, hasilnya jauh lebih baik, warnanya bisa tahan lebih lama dibandingkan dengan yang bront.
b.      Wayang Wong/orang
Wayang Wong berarti wayang yang diperankan oleh manusia. Ceritanya juga hampir sama dengan cerita-cerita pada wayang kulit namun dalangnya disamping sebagai penata cerita tetapi juga sekaligus sebagai sutradara panggung.
Wayang orang disebut juga dengan istilah wayang wong (bahasa Jawa) adalah wayang yang dimainkan dengan menggunakan orang sebagai tokoh dalam cerita wayang tersebut. Wayang orang diciptakan oleh Sultan Hamangkurat I pada tahun 1731.
Sesuai dengan nama sebutannya, wayang tersebut tidak lagi dipergelarkan dengan memainkan boneka-boneka wayang (wayang kulit yang biasanya terbuat dari bahan kulit kerbau ataupun yang lain), akan tetapi menampilkan manusia-manusia sebagai pengganti boneka-boneka wayang tersebut. Mereka memakai pakaian sama seperti hiasan-hiasan yang dipakai pada wayang kulit. Supaya bentuk muka atau bangun muka mereka menyerupai wayang kulit (kalau dilihat dari samping), sering kali pemain wayang orang ini diubah/dihias mukanya dengan tambahan gambar atau lukisan dengan menggunakan make-up.

F.    Sistem Mata Pencaharian Hidup dan Sistem – Sistem Ekonomi

Aktivitas ekonomi tidak hanya tercemin dalam keagamaan tetapi juga dalam kehidupan perdagangan. Prasasti-prasasti jawa Tengah180 yang berasal dari abad ke-10 kecuali menyebutkan adanya kelompok pedagang lokal, juga pedagang asing. Pedagang asing tersebut pada umumnya berasal dari Asia Selatan, Asia Tenggara daratan seperti Benggala, Karnataka, Sailan, dan Campa. Namun yang aneh dalam prasati tersebut tidak disebutkan adanya pedagang Cina, namun sesungguhnya kehadiran pedagang Cina diyakini kebenarannya dengan adanya peninggalan keramik-keramik dari Cina yang berasal dari Dinasti Tang(abad ke 9 sampai abad 10) di daerah-daerah dekat pantai utara maupun di pedalaman Jawa Tengah dan Jawa Timur (Orsyo de Flines 1972: 15-20, Suleiman 1984: 3-4, Boechari 1980. 29)
1.      Pada masa kerajaan Hindu-Budha
Pada abad ke-10 di daerah pesisir Jawa tengah mulai muncul bandar-bandar internasional atau “Kota-kota pelabuhan” mulai tumbuh, salah satu tempat di Jawa Tengah adalah di daerah Wurari, sedangkan di Jawa Timur di sekitar Tuban atau disekitar lembah Sungai Brantas yang lebih dikenal dengan daerah Ujung Galuh (Rahardjo 1991 Schrieke 1957: 295-297)
Yang mengejutkan pedagang-pedagang asing pada umumnya memiliki statusnya yang tinggi tetapi pada masa ini pedagang asing ternyata dinilai memiliki status yang rendah atau sama dengan penduduk desa dan tidak disukai kehadiranya, karena status ini agaknya benar kalau golongan dari pedagang asing ini tidak begitu diharapkan kehadirannya. Karena pedagang asing ini dianggap memberikan pengaruh besar dalam aspek intelektualnya sebagaimana tercermin dalam seni, arsitektur, agama, pemerintahan dan sastra (cf. Jones 1984 6-25)
Secara umum dapat dikatakan bahwa sumber pendapatan kerajaan di Jawa Tengah pada jaman massa Hindu dan Budha berasal dari hasil bumi dan pajak. Sedangkan retribusinya mungkin terjadi melalui sistem penggajian kepada pegawai-pegawai kerajaan (cf Goeneveldt 1960).
Berbeda dengan masa Jawa Tengah, pada masa jawa Timur yang merupakan jaman yang lebih maju, ternyata sudah mulai meninggalkan bangunan-bangunan purba kala yang cukup banyak. Namun ini berarti bahwa pengeluaran kerajaan untuk urusan keagamaan masih tetap menduduki tempat yang tinggi. Di Jawa Timur pusat-pusat bangunan monumental sudah bergesar kearah selatan, yaitu arah Kediri, kearah utara mendekati pantai, yaitu Singasari dan Majapahit. Pembagian topografis ini menunjukan perkembangan Sistem Ekonomi yaitu kronologisnya: Kediri yang tertua, Majapahit yang termuda dan Singosari terletak diantaranya.
Di kerajaan jawa Timur penghasilan yang paling pokok adalah pertanian, pajak dan kegiatan perdagangan dengan pedagang-pedagang dari negri asing. Bukti-bukti dari prasasti dan karya sastra menunjukan kalau pada masa lampau kerajaan Majapahit membuat program berbagai macam-macam pajak yang digunakan untuk memperbesar pemasukan kerajaan. Dari sumber yang sama diketahui kalau hubungan dagan dengan pedagang asing baik bersifat regional dan internasional mulai berkembang pesat. Pedagang asing muncul pada kerajaan di jawa Timur. Hal ini menunjukan bahwa kerajaan sudah mulai berhubungan dengan patner-patner dagangnya yang berasal dari luar negri (cf Jones 1984:25; Suhadi 19)
Pada masa ini kota-kota pelabuhan di jawa Timur yang sudah mulai berkembang pesat. Kota-kota pelabuhan di jawa Timur yang sudah mulai berkembang pesat antara lain adalah Tuban, Sedayu, Gresik, dan Surabaya. Seiring berkembangnya kota-kota pelabuhan di jawa Timur sudah mulai berkembang pesat menarik perhatian dari pedagang-pedanga Cina dan Arab dan tinggal di daerah pesisir laut di jawa Timur (Mills 1970). Bukti-bukti arkelogis yang menyebutkan bahwa telah terjadi kontak yang intensif antara pedagang Cina dan Arab dengan kerajaan-kerajaan di jawa Timur khususnya kerajaan Majapahit. Namun bagi kerajaan-kerajaan di jawa Timur hubungan dagang dengan pedagang asing lebih terpusat pada kebutuhan-kebutuhan akan simbol status.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan aktifitas ekonomi pada masa kerajaan-kerajaan di jawa Timur lebih berkembang pesat jika dibandingkan dengan pada masa kerajaan-kerajaan di jawa Tengah namun hal pokoknya masih sama yaitu bahwa sektor ekonomi, didominasi oleh  wilayah-wilayah pesisir panyan yang fungsinya utamanya untuk menyokong aktifitas politik. Para petinggi kerajaan juga masih membatasi fungsinya pada aspek-aspek politik dan keagamaan dan berusaha untuk tidak langsung pada urusan ekonomi, kecuali mungkin pejabat daerah yang menguasai pelabuhan-pelabuhan.


2.      Pada masa kerajaan Islam
Islam adalah agama orang kota yang memilki aturan-aturan yang dirancang untuk memenuhi tuntutan komonitas komersial. Tatanan pemukimanya juga mencerminkan orientasi penduduknya yang memiliki semangat dagang yang tinggi. Dua titik pusat kegiatannya di kota, adalah mesjid sebagai pusat kegiatan spiritual dan inteletual,  dan pasar sebagai pusat komersial(Grunebaum 1955: 1-2)
Dengan masuknya agama Islam di tanah jawa menyebabkan perdagangan  kota-kota di jawa mulai berkembang. Pusat kegiatan ekonomi yang paling menonjol di jawa terutama di sepanjang pantai utara Jawa, khususnya di kota-kota Tuban, Gresik, Surabaya, Jepara dan juga di Banten ujung barat. Kota-kota yang bereda dipesisir pantai utara kini menjadi kota yang berkembang kegiatan ekonominya dengan seiringnya masuknya agama Islam di Indonesia adalah kota-kota disepanjang pantai utara Jawa Timur dan Madura. Kota-kota tersebut antara lain Sedayu, Lasem, Pasuruan, Purbolinggo, Besuki, Panarukan, Sumenep, Pemekasaan, Bangkalan, dan beberapa kota lainnya(cf Cartesao 1944 : 166; Sujipto 1983 : 5-44; Surjo 1985 : 29)
Dari kota-kota tersebut kegiatan perdagangan berkembang pesat pada abad 15 hingga 17. Kota-kota yang mengalami perkembangan yang sangat pesat antara lain Tuban, Gresik, Jaratan, dan Surabaya. Dari letak lokasinya kota-kota tersebut merupakan pertemuan jalur-jalu laut yang menyusuri pantai dan pantai selatan Madura di satu pihak dan jalur laut yang memanjang yang menyusuri pantai utara Jawa Timur (Sedyawati dkk 1991/1992 28, 84). Karena letaknya yang stategis inilah yang menyebakan perdagangan ke wilayah Jawa Timur berada pada tangan pedagang Jawa dan Melayu, sedangkan para pedagan Cina dan India selalu membeli barang-barang, khususnya rempah-rempah, di pelabuhan dari pelabuhan Jawa dari tanggan kedua atau ketiga(long 1977 : 103; Reid 1980 ; 237).
Secara umum dikatakan oleh Wertheim(1956 : 168) bahwa kota-kota pantai di Jawa lebih bersifat cosmopolitan dibandingkan dengan kota-kota pedalama. Pedagang asing dan perajin mewakili sebagian besar penduduk kota, dan mereka masing-masing tinggal di daerah perkotaan secara berkelompok menurut kesamaan asal-usul kebangsaannya. Meski mereka sering melakukan kontak-kontak dagang dan sosial dengan bangsa-bangsa asing, namun suasana kota tidak merujuk sifat borjuis. Sifat pemerintahannya masih mirip seperti berlaku di daerah pedalaman, yaitu berisfat feudal dan tradisional.

G.   Sistem peralatan hidup atau teknologi

Sistem yang timbul karena manusia mampu menciptakan barang – barang dan sesuatu yang baru agar dapat memenuhi kebutuhan hidup dan membedakan manusia dengam makhluk hidup yang lain. Sistem Sistem peralatan hidup atau teknologi ini terbagi menjadi 3 bagian: yaitu sistem bangunan, sistem transportasi, sistem logam.
1.      sistem bangunan
Sebagai suatu kebudayaan, suku Jawa tentu memiliki peralatan dan perlengkapan hidup yang khas diantaranya yang paling menonjol adalah dalam segi bangunan. Masyarakat yang bertempat tinggal di daerah Jawa memiliki ciri sendiri dalam bangunan mereka, khususnya rumah tinggal. Ada beberapa  jenis rumah yang dikenal oleh masyarakat suku Jawa, diantaranya adalah rumah limasan, rumah joglo, dan rumah serotong. Rumah limasan, adalah rumah yang paling umum ditemui di daerah Jawa, karena rumah ini merupakan rumah yang dihunu oleh golongan rakyat jelata. Sedangkan rumah Joglo, umumnya dimiliki sebagai tempat tinggal para kaum bangsawan, misalnya saja para kerabat keraton.
Umumnya rumah di daerah Jawa menggunakan bahan batang bambu, glugu (batang pohon nyiur), dan kayu jati sebagai kerangka atau pondasi rumah. Sedangkan untuk dindingnya, umum digunakan gedek atau anyaman dari bilik bambu, walaupun sekarang, seiring dengan perkembangan zaman, banyak juga yang telah menggunakan dinding dari tembok. Atap pada umumnya terbuat dari anyaman kelapa kering (blarak) dan banyak juga yang menggunakan genting.

Salah satu seni bangunan yang terkenal dari kebudayaan Jawa adalah Candi Borobudur. Bukti kecanggihan teknologi dan arsitektur Borobudur adalah candi yang diperkirakan mulai dibangun sekitar 824 M oleh Raja Mataram bernama Samaratungga dari wangsa Syailendra. Borobudur merupakan bangunan candi yang memukau.

2.      Transportasi

a.       Kapal Jung
Kapal Jung Jawa adalah teknologi kapal raksasa buatan orang –orang jawa. Jauh sebelum Cheng Ho dan Columbus, para penjelajah laut Nusantara sudah melintasi sepertiga bola dunia. Meskipun sejak 500 tahun sebelum Masehi orang-orang China sudah mengembangkan beragam jenis kapal dalam berbagai ukuran, hingga abad VII kecil sekali peran kapal China dalam pelayaran laut lepas. Dalam catatan perjalanan keagamaan I-Tsing (671-695 M) dari Kanton ke Perguruan Nalanda di India Selatan disebutkan bahwa Ia meleawati Sriwijaya dengan menggunakan kapal Sriwijaya, ketika negeri itu menguasai lalu lintas pelayaran di aut Selatan Pelaut Portugis. Menurut  Diego de Couto dalam buku Da Asia yang terbit tahun 1645 menyebutkan bahwa,  Ia pernah bertemu denga orang Jawa yang lebih cokelat seperti orang Jawa. Mereka mengaku keturunan Jawa,kata Couto, sebagaimana dikutip Anthony Reid dalam buku Sejarah Modern Awal Asia Tenggara.
Berdasarkan relief kapal di Candi Borobudur membuktikan bahwa sejak dulu nenek moyang kita telah menguasai teknik pembuatan kapal. Dengan adanya relief  kapal di candi Borobudur telah memainkan peran utama dalam segala hal dalam transportasi pelayaran di Jawa, dengan tiga atau empat layar sebagai Jung. Kata Jung digunakan pertama kali dalam perjalanan biksu Odrico jurnal, Jonhan de Marignolli, dan Ibnu Battuta berlayar ke Nusantara, awal abad ke-14.
Mereka memuji kehebatan kapal Jawa raksasa sebagai penguasa laut Asia Tenggara. Teknologi pembuatan Jung tak jauh berbeda dari karya kapal Borobudur; seluruh badan kapal dibangun tanpa menggunakan paku. Disebutkan, jung Nusantara memiliki empat tiang layar, terbuat dari papan berlapis empat serta mampu menahan tembakan meriam kapal-kapal Portugis.
Bobot jung rata-rata sekitar 600 ton, melebihi kapal perang Portugis. Jung terbesar dari Kerajaan Demak bobotnya mencapai 1.000 ton yang digunakan sebagai pengangkut pasukan Nusantara untuk menyerang armada Portugis di Malaka 1513.

b.      Andong
Andong merupakan salah satu alat transportasi tradisional di Solo dan Yogyakarta dan daerah-daerah di sekitarnya, seperti Klaten, Karanganyar, Boyolali, Sragen, dan Sukoharjo. Keberadaan Andong sebagai salah satu warisan budaya Jawa memberikan ciri khas kebudayaan tersendiri yang hingga kini masih terus dilestarikan, khususnya di Solo. keberadaan Andong di Solo difungsikan sebagai alat transportasi pengangkut barang-barang dagangan ibu-ibu dari pedesaan menuju pasar-pasar tujuan. Selain berfungsi sebagai media pengangkut barang dagangan pasar, Andong juga tidak jarang berfungsi sesuai dengan aslinya sebagai alat transportasi umum bagi masyarakat di Solo dan sekitarnya.
Beberapa orang sering menyebut Andong dengan Dokar atau Bendi atau Delman. Padahal Andong berbeda dengan Dokar, Bendi atau Delman. Salah kaprah ini muncul karena informasi yang tidak akurat dan mulai berkurangnya pengajaran-pengajaran serta pengetahuan. Dokar hanya mempunyai dua roda dan ditarik oleh satu kuda saja, sedangkan Andong mempunyai roda empat yang bisa ditarik satu atau dua kuda. Menurut sejarah, model kereta kuda transportasi umum ala Andong dengan roda empat ini hanya dapat ditemui di Solo dan Yogyakarta saja (di Indonesia). Inilah yang kemudian membuat Andong berbeda dengan model kereta berkuda lainnya sekaligus menjadi daya tarik yang unik.
3.      Logam
Keris adalah kecanggihan teknologi penempaan logam Teknologi logam sudah lama berkembang sejak awal masehi di nusantara. Para empu sudah mengenal berbagai kualitas kekerasan logam. Keris memiliki teknologi penempaan besi yang luar biasa untuk ukuran masyarakat di masa lampau. Keris dibuat dengan teknik penempaan, bukan dicor.
Teknik penempaan disertai pelipatan berguna untuk mencari kemurniaan besi, yang mana pada waktu itu bahan-bahan besi masih bercampur  dengan materi- materi alam lainnya. Keris yang mulanya dari lembaran besi yang dilipat-lipat hingga kadang sampai ribuan kali lipatan sepertinya akan tetap senilai dengan prosesnya yang unik, menarik dan sulit.
Perkembangan teknologi tempa tersebut mampu menciptakan satu teknik tempa Tosan Aji ( Tosan = besi, Aji = berharga). Pemilihan akan batu meteorit yang mengandung unsur titanium sebagai bahan keris, juga merupakan penemuan nenek moyang kita yang mengagumkan.
Titanium lebih dikenal sebagai bahan terbaik untuk membuat keris karena sifatnya ringan namun sangat kuat. Kesulitan dalam membuat keris dari bahan titanium adalah titik leburnya yang mencapai 60 ribu derajat celcius, jauh dari titik lebur besi, baja atau nikel yang berkisar 10 ribu derajat celcius. Titanium ternyata memiliki banyak keunggulan dibandingkan jenis unsur logam lainnya. Unsur titanium itu keras, kuat, ringan, tahan panas, dan juga tahan karat. Unsur logam titanium baru ditemukan sebagai unsur logam mandiri pada sekitar tahun 1940, dan logam yang kekerasannya melebihi baja namun jauh lebih ringan dari besi.
Suku jawa yang berada di daerah pulau Jawa merupakan suku yang memiliki berbagai kebudayaan, mulai dari adat istiadat sehari-hari, kesenian, acara ritual, dan lain-lain.Semua itu membuktikan bahwa suku jawa merupakan suku yang kaya akan budaya daerah. Dan dari kekayaan budaya yang di miliki suku jawa itulah yang menbuatnya berberda dengan kebudayaan – kebudayaan lain yang ada di Indonesia.
Manusia dan kebudayaan merupakan suatu kesatuan yang erat sekali. Kedua-duanya tidak mungkin dipisahkan. Ada manusia ada kebudayaan, tidak akan ada kebudayaan jika tidak ada pendukungnya, yaitu manusia. Akan tetapi manusia itu hidupnya tidak berapa lama, ia lalu mati. Maka untuk melangsungkan kebudayaan, pendukungnya harus lebih dari satu orang, bahkan harus lebih dari satu turunan. Jadi harus diteruskan kepada anak cucu keturunan selanjutnya.















                                                                             
Daftar Pustaka.
Ali, Fachry. 1986. Kekuasaan Jawa. Jakarta: PT Gramedia
Bastomi, Suwaji. 1992. Seni dan Budaya Jawa. Semarang: Ikip Semarang Press
Hardjowirogo, Marbangun. 1983. Manusia Jawa. Jakarta Pusat: Yayasan Idayu
Sedyawati, Edi dkk. 1993. Sejarah Kebudayaan Jawa. Jakarta: Manggala Bhakti
Setiyanto, Aryo Bimo. 2007. Parama Satra Bahasa jawa. Yogykarta: Panji Pustaka

Link yang terkait:
pukul 19.20)
pukul 19.30)
http://id.wikipedia.org/wiki/Wayang_Kulit (diakses  pada hari Selasa 4 Juni 2013
 pukul 19.40)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar